Sultan Hasanuddin, Andi Djemma, dan Iwan Sumule: Tiga Zaman Satu Semangat Membela Indonesia dari Ancaman Disintegrasi

Iwan Sumule
Iwan Sumule

JAKARTA  – Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik nasional, suara Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDem), Iwan Sumule, kembali menggema lantang.

Aktivis asal Sulawesi Selatan ini dengan tegas mendukung institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tetap berada di bawah kendali Presiden. “Ini bukan sekadar posisi struktural, tapi fondasi keadilan dan stabilitas bangsa,” ujar Iwan dalam pernyataannya yang penuh semangat di Jakarta pekan lalu.

ProDem bahkan berencana mengirim surat resmi kepada Presiden Prabowo Subianto untuk meminta penegasan tegas terkait hal ini. Dukungan ini bukan hanya strategi politik, tapi panggilan hati dari seorang pejuang demokrasi yang lahir dari tanah penuh pahlawan, Sulawesi Selatan.

Iwan Sumule, sebagai Wakil II Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 22 Oktober 2024 lalu, bukanlah sosok biasa.

Ia adalah representasi hidup dari semangat Sipakatau  filosofi Bugis-Makassar yang mengajarkan saling menghormati dan mendukung. Lahir di Ujung Pandang, Makassar, pada 12 Januari 1972, Iwan tumbuh di tanah yang pernah dibasuh darah para pahlawan nasional.

“Darah, air mata, dan harga diri yang tak pernah tumbang,” begitu Iwan sering mengingatkan dalam diskusinya, merujuk pada warisan heroik Sulawesi Selatan. Kisahnya bukan hanya tentang karir politik, tapi juga tentang bagaimana tanah kelahirannya membentuk jiwa perjuangan yang tak kenal lelah.

Latar belakang pendidikannya di Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia (UKI) membentuk cara berpikirnya yang terstruktur namun tetap membumi. Saat kuliah, ia aktif sebagai anggota Senat Mahasiswa UKI (1995-1996) dan Koordinator Forum Komunikasi Teknik Sipil se-Indonesia (FKMTSI) Wilayah V.

Semangat aktivismenya telah terlihat sejak muda, lahir dari tanah Sulawesi Selatan di mana nilai-nilai keberanian dan keadilan sudah mendarah daging.

Mengabdi di Istana: Misi Pengentasan Kemiskinan

Bantu pemerintah beliau sebagai Wakil II Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan di Istana Negara menjadi momen emosional bagi banyak pihak. Di hadapan Presiden Prabowo, Iwan bersumpah untuk mempercepat upaya mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

“Ini adalah amanah dari rakyat, khususnya dari saudara-saudara di Sulawesi Selatan yang masih berjuang,” katanya.

Badan yang dibentuk untuk mengkoordinasikan program-program anti-kemiskinan nasional ini kini memiliki sosok seperti Iwan yang berpengalaman di lapangan. Dengan latar belakang teknik sipil, ia memahami betul bagaimana membangun infrastruktur yang berpihak pada rakyat miskin bukan sekadar teori, tapi aksi nyata di daerah-daerah tertinggal.

Program pengentasan kemiskinan akan difokuskan pada daerah tertinggal, termasuk kampung halamannya di Sulawesi Selatan. “Kita harus bangun infrastruktur yang adil, pendidikan yang merata, dan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil,” tegasnya.

Sebagai kader Partai Gerindra, melangkah melintang dunia pergerakan. Namun, jiwanya tetap tertambat di Makassar. “Saya lahir di tanah yang melahirkan pahlawan seperti Sultan Hasanuddin. Semangat itu yang saya bawa ke Jakarta,” ujarnya.

Pengalamannya sebagai Asisten Staf Khusus di Sekretariat Kabinet era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2009-2013) memberinya wawasan mendalam tentang kebijakan publik. Kini, di bawah kepemimpinan Prabowo, Iwan melihat peluang untuk mewujudkan visi keadilan sosial yang lebih besar.

Polri di Bawah Presiden: Fondasi Demokrasi Substantif

Dukungan Iwan terhadap Polri tetap di bawah presiden bukan tanpa alasan. Sebagai Ketua Majelis ProDem, ia melihat institusi ini sebagai pilar utama dalam menjaga demokrasi substantif.

“Polri harus independen tapi tetap akuntabel kepada presiden sebagai pemimpin tertinggi,” tegas Iwan.

ProDem, organisasi yang fokus pada hak sipil, transparansi, dan keadilan, akan segera mengirim surat ke Presiden Prabowo. Surat itu bukan sekadar permintaan administratif, tapi seruan emosional untuk memperkuat fondasi negara.

“Bayangkan jika Polri lepas kendali – itu seperti membiarkan api membakar rumah kita sendiri,” analoginya yang menyentuh hati.

Komitmen ini sejalan dengan jejak panjang Iwan dalam memperjuangkan penegakan hukum. Ia mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Nusantara di Jakarta dan menjabat sebagai Ketua Indonesia Law Enforcement Watch (ILEW), yang gigih memperjuangkan penegakan hukum yang adil.

Dukungan untuk Polri di bawah presiden adalah bagian dari visi besarnya memastikan keamanan dan keadilan sebagai fondasi pembangunan nasional.

News
News

Warisan Para Pahlawan Sulawesi Selatan: Bara yang Tak Pernah Padam

Sulawesi Selatan bukan sekadar tempat lahir Iwan; ia adalah sumber api semangatnya. Tanah Bugis-Makassar ini telah melahirkan para pahlawan yang namanya abadi dalam sejarah Indonesia. Iwan sering mengutip mereka sebagai pengingat: “Darah, air mata, dan harga diri yang tak pernah tumbang.”

Mari kita telusuri jejak para pahlawan ini, yang menjadi inspirasi bagi Iwan dalam perjuangannya hari ini:

Sultan Hasanuddin (1631-1670): Ayam Jantan dari Timur

Raja Gowa ini dengan gagah berani melawan VOC Belanda. Strategi militernya legendaris, membuat musuh segan. “Lebih baik hancur dalam perlawanan, daripada hidup dalam penghinaan,” kutipannya yang membara. Diberi gelar Pahlawan Nasional pada 1973, Sultan Hasanuddin adalah simbol keteguhan hati yang Iwan terapkan dalam advokasi demokrasinya. Keberaniannya melawan monopoli asing menjadi inspirasi bagi perjuangan Iwan melawan ketidakadilan struktural.

Andi Djemma (1890-1965): Raja Luwu yang Tegas

Raja Luwu yang menolak penjajahan Belanda pasca-kemerdekaan. Ia menyatakan Luwu sebagai bagian integral dari Republik Indonesia, menggunakan diplomasi dan perjuangan bersenjata. “Luwu adalah bagian dari Indonesia. Titik,” pernyataannya sederhana tapi penuh kekuatan. Gelar Pahlawan Nasional pada 2002 membuatnya menjadi teladan bagi Iwan dalam memperjuangkan integritas nasional dan kedaulatan bangsa.

Andi Mappanyukki (1885-1967): Panglima dari Bone

Mantan Raja Bone yang memilih angkat senjata bersama rakyat Bugis melawan penjajah. Ia menjadi simbol persatuan, mengajarkan bahwa harga diri lebih penting dari tahta. Diberi gelar Pahlawan Nasional pada 2004, semangatnya tercermin dalam komitmen Iwan terhadap keadilan sosial. Andi Mappanyukki mengajarkan bahwa pemimpin sejati harus turun ke medan perjuangan, bukan hanya duduk di singgasana.

Andi Abdullah Bau Massepe (1918-1947): Panglima Perang dari Sidenreng

Panglima Perang dari Kerajaan Sidenreng yang gugur dalam Agresi Militer Belanda. Dieksekusi tapi jasadnya abadi sebagai inspirasi. Gelar Pahlawan Nasional 2004 mengingatkan Iwan bahwa perjuangan sering memerlukan pengorbanan tertinggi. Kisahnya mengajarkan bahwa kemerdekaan tidak datang tanpa harga, sebuah pelajaran berharga bagi generasi muda.

Robert Wolter Monginsidi (1925-1949): Gerilyawan Muda dari Makassar

Pejuang muda kelahiran Malino, Makassar, yang memimpin gerilya melawan Belanda dan dihukum mati. Sebelum ajal, ia menulis surat mengharukan: “Indonesia tanah airku, aku rela mati demi kau!” Gelar Pahlawan Nasional anumerta pada 1950 membuatnya menjadi idola bagi generasi muda seperti Iwan di masa kuliahnya. Monginsidi membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkorban bagi bangsa.

Para pahlawan ini bukan hanya nama di buku sejarah; mereka adalah bara yang membakar semangat Iwan Sumule. Dari Gowa, Luwu, Bone, hingga Sidenreng, Sulawesi Selatan telah menyumbang darah terbaiknya untuk Ibu Pertiwi. “Ingat dan teruskan perjuangan mereka,” seru Iwan dalam setiap diskusinya.

Membangun Masa Depan: Pewaris Semangat Kepahlawanan

Dengan posisi barunya, Iwan Sumule berjanji untuk membawa semangat Sulawesi Selatan ke tingkat nasional. Dukungannya untuk Polri di bawah presiden bukan sekadar posisi politik, tapi keyakinan mendalam bahwa stabilitas keamanan adalah prasyarat mutlak bagi pembangunan yang berkeadilan.

Iwan juga mengajak generasi muda untuk terinspirasi dari pahlawan Sulawesi Selatan. “Jangan biarkan api perjuangan padam. Kita adalah pewaris mereka,” pesannya yang menyentuh. Di era digital ini, ProDem akan menggunakan berbagai platform untuk memperluas advokasi, memastikan suara rakyat didengar dan kebijakan publik berpihak pada yang lemah.

Program pengentasan kemiskinan yang diampunya akan mengintegrasikan pendekatan infrastruktur, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. “Kita tidak bisa membangun dari atas tanpa memperkuat fondasi di bawah. Rakyat kecil harus menjadi prioritas, bukan sekadar komoditas politik,” tegasnya.

Catatan Redaksi Gurindam.id:

· Iwan Sumule lahir di Makassar, 12 Januari 1972

· Pendidikan: Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia (UKI)

· Jabatan saat ini: Wakil II Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (2024-sekarang), Ketua Majelis ProDem

· Pengalaman: Asisten Staf Khusus Sekretariat Kabinet (2009-2013), Ketua ILEW, Pendiri Lembaga Bantuan Hukum Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *