PALEMBANG – Di tengah hembusan angin Sungai Musi yang legendaris, berdiri tegar Kodam II/Sriwijaya sebagai simbol keberanian dan pengabdian tak tergoyahkan bagi bangsa Indonesia.
Dari perjuangan kemerdekaan hingga era modern, pasukan ini telah mengorbankan jiwa dan raga untuk menjaga kedaulatan tanah air. Sebuah cerita patriotisme yang membangkitkan air mata bangga, mengingatkan kita semua Indonesia bukan hanya tanah, tapi darah dan semangat yang menyatu dalam dada setiap rakyatnya.
Bayangkan tahun 1945, saat Proklamasi Kemerdekaan bergema, Belanda datang kembali dengan ambisi kolonialnya. Di Sumatera Selatan, Kodam II/Sriwijaya lahir dari api perlawanan.
Sebagai bagian dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), mereka berdiri di garis depan, menghadapi Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947.
Dengan strategi gerilya yang gigih, pasukan ini menyusutkan kekuatan musuh di perkotaan dan pedesaan.
“Mereka bukan sekadar tentara, tapi pahlawan yang menjaga mimpi kemerdekaan,” kata Julizar seorang sejarawan militer, mengenang Pertempuran Boom Baru yang epik, di mana posisi strategis dipertahankan dengan darah dan keringat.
Tak berhenti di situ, Agresi Militer Belanda II tahun 1948 menguji ketabahan mereka. Di hutan-hutan Sumatera, pertarungan sengit berlangsung.
Kodam II/Sriwijaya mengoordinasikan respons heroik, meski dalam keterbatasan. Bahkan saat Jepang menduduki Palembang pada 14 Februari 1942, pasukan ini yang akarnya dari Korps Sriwijaya telah menunjukkan semangat tak kenal menyerah.
Mereka menghancurkan jembatan dan pabrik untuk menghambat musuh, sebuah pengorbanan yang membara dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Setelah masa ke era pasca kemerdekaan, Kodam II/Sriwijaya terus menjadi pelindung. Dalam Operasi Seroja 1975, mereka mendukung stabilitas di Timor Timur, menghadapi konflik internal seperti pemberontakan di Sumatera.
Tak hanya perang, mereka juga hadir di saat bencana: gempa bumi, banjir, hingga penanganan terorisme sejak 2000-an.
“Ketika banjir melanda, mereka datang bukan sebagai tentara, tapi sebagai saudara,” cerita warga Palembang, mata berkaca-kaca mengenang bantuan kemanusiaan yang tulus.
Norma dasar mereka, berakar pada Pancasila, Sapta Marga, dan Sumpah Prajurit, menjadi pedoman abadi. Delapan Wajib ABRI mengajarkan ramah tamah terhadap rakyat, menjunjung kehormatan, dan tak pernah menyakiti sesama.
Visi mereka: Menjadi komponen pertahanan solid, profesional, dan dicintai rakyat, sesuai Tap MPR RI Nomor VII/2000. Misi mulia mencakup menegakkan kedaulatan, melindungi wilayah, hingga ikut misi perdamaian dunia di bawah PBB.
Motto “Patah Tumbuh Hilang Berganti” begitu menyentuh: Jiwa kejuangan tak pernah putus, dari generasi 1945 hingga hari ini.
Hari jadi resmi pada 1 Januari 1946, disahkan oleh Kasad pada 1986, menandai lahirnya kesatuan ini dari koordinasi Dr. AK Gani di Palembang. Di era reformasi, mereka beradaptasi dengan demokrasi dan HAM, membangun hubungan harmonis dengan masyarakat sipil melalui program sosial.
Bagi rakyat Indonesia, Kodam II/Sriwijaya bukan hanya institusi militer tapi cermin patriotisme sejati. Mereka mengingatkan kita pada peninggalan sejarah: lagu-lagu perjuangan, seni budaya Sumatera Selatan yang abadi.
Di tengah tantangan global, mari kita ambil hikmah, Pengorbanan mereka adalah api yang menyala, membangun kedamaian untuk generasi mendatang. Markas Kodam II/Sriwijaya Jalan Jenderal Sudirman KM 2,5 Palembang.
Sumber: https://www.kodam-ii-sriwijaya.mil.id













