JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyindir adanya pihak asing atau “tamu tidak tahu diri” yang datang ke Indonesia dengan dalih berdagang, namun kemudian merampok kekayaan bangsa. Pernyataan ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat membuka Sidang Kabinet Paripurna bertajuk “2 Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri” di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu.
Dalam pidatonya, Kepala Negara menegaskan bahwa bangsa ini dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Menurutnya, ada dua pilihan yang harus diambil: menyelamatkan kekayaan bangsa atau terus melanjutkan sistem yang membuat kekayaan Indonesia diambil ke luar negeri.
“Kita dipaksa memilih hadapi kesulitan, kenyataan, yang intinya adalah menyelamatkan kekayaan bangsa atau kita teruskan sistem yang mengakibatkan kekayaan RI diambil ke luar negeri, tahun demi tahun melalui segala praktik-praktik yang saya anggap penipuan,” ujar Prabowo.
Prabowo mengaku telah menerima mandat dari rakyat untuk melawan dan menghadapi segala bentuk kesulitan yang dihadapi warga. Menurut dia, negara tak lagi bisa naif menyenangkan semua orang untuk menghadapi semua itu.
“Kita tidak bisa lagi menghadapinya dengan terlalu naif atau terlalu berusaha untuk senangkan orang lain,” katanya.
Presiden Prabowo menantang semua pemimpin politik, pakar, maupun ahli hukum yang bisa dengan keras menyatakan penolakan atas kondisi tersebut. Padahal, menurutnya, praktik penyelundupan kekayaan negara adalah pelanggaran hukum yang nyata.
“Apakah ada pemimpin politik atau ahli hukum yang akan berdiri dan katakan bahwa penyelundupan bukan pelanggaran?” katanya.
Dia menilai penyelundupan komoditas strategis, mulai dari timah, emas, batu bara, dan kayu hingga bahan bakar minyak (BBM) serta pupuk bersubsidi, merugikan perekonomian dan kepentingan rakyat Indonesia.
Apresiasi Kinerja Kabinet Merah Putih
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kabinet Merah Putih sekaligus menyoroti berbagai tantangan global yang dihadapi pemerintah selama dua tahun terakhir. Menurutnya, dua tahun pemerintahan telah dilalui bersama jajaran kabinet dengan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik hingga persaingan ekonomi dan perdagangan antarnegara.
“Dua tahun telah kita lalui bersama, dua tahun telah kita bekerja bersama, dua tahun telah kita mengemban amanah dari rakyat kita. Kita telah menghadapi berbagai tantangan,” kata Presiden Prabowo.
Menurutnya, lingkungan global saat ini diwarnai berbagai krisis, konflik, hingga peperangan yang terjadi di sejumlah kawasan dunia. Selain perang terbuka, persaingan juga berlangsung di bidang ekonomi dan perdagangan, termasuk melalui kebijakan tarif.
“Kita berada di kondisi global yang ditandai dengan hegemoni dunia antara kekuatan-kekuatan besar. Kondisi global ini mau tidak mau akan mempengaruhi semua negara, karena dunia kita sudah saling terintegrasi, kita saling tergantung satu sama lain,” ujarnya.
Selain tantangan geopolitik dan ekonomi, Presiden Prabowo menyoroti dampak perubahan cuaca yang memicu berbagai gejolak. Indonesia, kata Presiden Prabowo, juga menghadapi tantangan geografis karena berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik yang berpotensi berhadapan dengan bencana alam.
Meski demikian, Presiden Prabowo menilai kondisi geografis tersebut juga menyimpan peluang bagi Indonesia. Aktivitas geologis yang membentuk wilayah Indonesia turut menghasilkan tanah yang subur serta kekayaan mineral yang berharga.
Tekankan Pentingnya Teamwork
Di akhir pidatonya, Prabowo juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh anggota Kabinet Merah Putih atas kerja sama selama dua tahun pemerintahan. Ia menilai keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kekompakan dan kemampuan seluruh jajaran untuk bekerja sebagai satu tim.
“Saya ingin ucapkan terima kasih atas kekompakan dan teamwork yang ditunjukkan selama dua tahun ini. Berhasilnya pemerintahan ditentukan oleh teamwork,” ujar Presiden Prabowo.
Menurutnya, kerja sama yang baik lebih penting daripada sekadar mengandalkan individu-individu yang memiliki kemampuan menonjol, tetapi tidak mampu berkolaborasi.
“Saya bangga menjadi pemimpinmu, karena dalam dua tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata,” katanya.
(GRD/pro)














