Mengapa Laksamana Muhammad Ali Layak Jadi Kandidat Terkuat Panglima TNI?

Bersama Kasal Dr Muhammad Ali, Prabowo menyaksikan secara langsung kekuatan maritim TNI Angkatan Laut yang ditampilkan dalam Sailing Pass puluhan kapal perang di atas Kapal Markas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.
Bersama Kasal Dr Muhammad Ali, Prabowo menyaksikan secara langsung kekuatan maritim TNI Angkatan Laut yang ditampilkan dalam Sailing Pass puluhan kapal perang di atas Kapal Markas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.

JAKARTA,— Di sebuah ruang hening yang hanya terdengar detak jarum jam birokrasi, Presiden Prabowo Subianto bersiap menorehkan keputusan penting pada peta pertahanan nasional.

Agustus hingga September 2026, menjadi penanda waktu bagi gelombang mutasi dan roti perwira tinggi TNI. Bukan sekadar serah terima jabatan, melainkan sebuah narasi tentang regenerasi, identitas, dan simbol kekuasaan.

Di antara banyak nama yang beredar, satu figur mencuri perhatian bukan hanya karena bintang empat yang tersemat di pundaknya, melainkan karena latar belakangnya yang tak biasa. Ia adalah Laksamana Muhammad Ali.

Analis militer dari Universitas Nasional (UNAS), Dr. Selamat Ginting, memotret bagaimana alur kehidupan sang Laksamana seolah “menyiapkannya” untuk menjadi jembatan di antara tiga matra TNI.

Cerita ini berawal dari legitimasi profesional yang tak terbantahkan. Dalam kultur militer, senaritas adalah bahasa penghormatan yang menjaga stabilitas internal.

Di usianya yang ke-59, Laksamana Muhammad Ali adalah perwira bintang empat paling senior. Ia lebih dulu menyandang bintang empat dibandingkan nama-nama besar lain seperti Jenderal Maruli Simanjuntak (KSAD), Marsekal M. Tonny Harjono (KSAU), hingga Jenderal Agus Subiyanto (Panglima TNI saat ini).

Tiga tahun delapan bulan memimpin TNI AL sejak Desember 2022 adalah modal tempur organisasi yang matang. Bagi Dr. Selamat Ginting, durasi ini adalah panggung pembuktian bahwa Ali bukan sekadar laksamana, melainkan arsitek strategis yang siap membawa visi maritim ke level yang lebih tinggi.

Alur cerita bergeser ke politik simbolik. Publik masih mengingat jelas bagaimana istana periode lalu dikelilingi oleh para mantan ajudan dan Komandan Paspampres yang kini menduduki jabatan strategis. Tanpa bermaksud mereduksi kompetensi, persepsi publik di era demokrasi adalah salah satu tiang legitimasi.

Di tengah situasi ini, Presiden Prabowo dihadapkan pada kebutuhan untuk mengirim sinyal tegas: bahwa regenerasi kepemimpinan TNI kini memasuki fase baru. Fase di mana kalkulasi politik masa lalu digantikan oleh meritokrasi murni.

Muhammad Ali hadir sebagai antitesis dari bayang-bayang politik tersebut. Ia adalah figur netral, kuat secara profesional, dan relatif tak tersentuh oleh jaringan kekuasaan domestik istana sebelumnya.

Jika kita memutar ke belakang peta distribusi Panglima sejak era 2017, ada ketimpangan yang tak kasat mata. TNI AU (Marsekal Hadi Tjahjanto) memimpin empat tahun, TNI AD (Jenderal Andika Perkasa dan Agus Subiyanto) total memimpin empat tahun, sementara TNI AL melalui Laksamana Yudo Margono hanya mendapat giliran singkat sekitar satu tahun.

Ketimpangan ini bukan hanya soal hitung-hitungan jabatan. Lebih dalam, ini adalah soal rasa memiliki (sense of ownership) dan soliditas organisasi. Menunjuk kembali putra terbaik dari matra laut bukan hanya pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga detak jantung kolektif TNI tetap berdetak serempak.

Ada suara sumir yang menyebut Presiden Prabowo, sebagai alumni Akmil 1974, akan lebih merasa solid jika Panglima berasal dari “saudara tua”-nya di Angkatan Darat. Namun di sinilah letak kenegarawanan itu diuji. Justru dengan memilih putra Angkatan Laut, Presiden akan diingat sebagai pemimpin yang berdiri di atas semua matra, mempersatukan darat, laut, dan udara dalam satu napas yang sama.

Darah Darat di Dada Laut (Warisan Sang Zeni)

Di sinilah alur cerita mencapai klimaks yang paling manusiawi. Siapakah sejatinya Laksamana Muhammad Ali? Ia bukanlah orang laut yang asing dengan aroma tanah dan baja.

Ayahnya, Mayjen TNI (Purn) Roestandi AM, adalah legenda Angkatan Darat. Seorang mantan Pangdam Sriwijaya dan lulusan terbaik Akademi Zeni 1956. Nama Roestandi bersanding dalam prasasti sejarah dengan para seniornya: Kolonel Soenarto (Ayahanda Jenderal Andika Perkasa, lulusan 1957) dan Jenderal Try Sutrisno (lulusan 1959).

Meski seragamnya kini putih, darah Muhammad Ali adalah hijau tua khas Zeni Angkatan Darat. Sejak kecil, ia bernapas dalam kultur lintas matra. Makan malam di keluarganya mungkin adalah diskusi tentang jembatan, benteng, dan kapal perang sekaligus. Modal sosial genetis ini adalah senjata rahasia yang tak dimiliki kandidat lain. Ia mampu menyinergikan “saudara tua” dan “saudara muda” karena sejak lahir ia adalah penjelmaan dari sinergi itu.

Keputusan akhir tentu saja berada dalam genggaman Presiden Prabowo. Namun jika skenario terbaik disusun berdasarkan kalkulasi profesional, keseimbangan matra, dan kekayaan pengalaman, maka panglima dengan darah zeni dan jiwa bahari inilah jawabannya.

Menunjuk Muhammad Ali bukan sekadar menempatkan seorang pemimpin di puncak hierarki. Ini adalah deklarasi bahwa TNI adalah rumah bersama, di mana seorang anak darat bisa menjadi penguasa laut, dan akhirnya mempersatukan angkasa untuk Indonesia.

Dr. Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS). Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *