GURINDAM.ID – Malam di Gedung Serindit, Kabupaten Natuna, Jumat (13/7/2026), berubah menjadi panggung perpisahan yang sarat makna. Di ruangan yang dipenuhi sekitar 150 undangan, berbaur rasa haru, bangga, dan kehilangan.
Tepat di tengah, berdiri seorang perwira dengan senyum teduh, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, S.IP., P.S.C. Ia baru saja mengakhiri masa tugasnya sebagai Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Ranai. Sebuah pengabdian singkat, hanya 10 bulan 20 hari, namun meninggalkan jejak yang tak akan mudah terhapus dari ingatan warga Natuna.
Pelepasan malam itu dihadiri Bupati Natuna, Cen Sui Lan, didampingi Wakil Bupati Jarmin Sidik, Sekretaris Daerah Boy Wijanarko Varianto, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Dalam sambutannya, Cen Sui Lan tak sekadar menyampaikan ucapan perpisahan. Ia memberikan apresiasi atas kepemimpinan Kolonel Ady yang dinilainya berhasil merajut sinergi erat antara TNI AL, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat di wilayah perbatasan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Natuna dan seluruh masyarakat, saya mengucapkan terima kasih serta penghargaan setinggi-tingginya kepada Bapak Kolonel Laut Ady Dharmawan atas dedikasi dan pengabdian selama bertugas di Natuna,” ujar Cen Sui Lan. Ia menegaskan, sinergi yang dibangun menjadi modal utama menjaga stabilitas keamanan sekaligus memacu percepatan pembangunan di kawasan strategis Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun, malam itu bukan sekadar seremoni protokoler. Ketika tayangan video kilas balik pengabdian Danlanal Ranai diputar, banyak mata yang berkaca-kaca.
Video itu memperlihatkan bagaimana Kolonel Ady Dharmawan, yang baru tiba di Natuna pada 23 Agustus 2025 dengan sambutan adat tanjak Melayu oleh Sekda Boy Wijanarko, langsung tancap gas menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat dari pulau terluar hingga ke jantung pemerintahan.

Mundur sejenak ke Sabtu, 23 Agustus 2025. Bandara Raden Sadjad Natuna bergetar dalam haru dan hormat. Komandan Lanud RSA, Kolonel Pnb I Ketut Adiyasa Ambara, berdiri tegak mendampingi istri menyambut seorang perwira yang baru saja ditunjuk sebagai Danlanal Ranai.
Sekda Boy Wijanarko mengalungkan selempang kehormatan dan menyematkan tanjak khas Melayu ke kepala Kolonel Ady. Tak seorang pun menduga, penyambutan adat yang hangat itu menjadi prolog dari mozaik pengabdian yang menyentuh urat nadi kemanusiaan.
Karier Kolonel Ady adalah kanvas sempurna seorang prajurit Jalasena. Sebelum menginjakkan kaki di Ranai, ia telah menaklukkan amanah sebagai Komandan KRI Surabaya-591, kapal perang yang menjadi saksi ketangguhannya di lautan. Ia juga pernah memimpin Lanal Maumere, dan pada 2024 dipercaya sebagai Koordinator Administrasi (Koorsmin) Panglima Komando Armada RI.
Tugas di pusat komando menempanya menjadi perwira cermat dan visioner. Namun, penempatan di Ranai, kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, adalah panggilan jiwa. Ia datang bukan sekadar dengan otoritas komandan pangkalan, melainkan dengan naluri seorang bapak, guru, dan sahabat bagi masyarakat yang mendamba sentuhan negara.

Membangun Nasionalisme di Geladak KRI Bung Tomo
Episode paling mengharukan terjadi pada Sabtu, 15 November 2025. Saat itu, Kolonel Ady memimpin langsung kunjungan siswa-siswi Saka Bahari Angkatan VI ke geladak KRI Bung Tomo-357.
Di bawah bayang-bayang meriam dan radar, dengan tatapan membara, ia menyampaikan pesan yang menusuk nurani anak-anak muda: “Laut adalah masa depan kalian. Disiplin dan cinta bahari adalah bekal untuk menjaga kedaulatan Indonesia.” Di atas kapal perang itu, siswa yang semula gamang berubah menjadi generasi dengan binar mata baru. Itulah pedagogi khas Kolonel Ady: menanamkan nasionalisme lewat pengalaman konkret, bukan ceramah kering.
Komitmen terhadap generasi muda tak berhenti di geladak kapal. Pada 16 Oktober 2025, atas instruksinya, Posal Midai berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan dan penerimaan prajurit TNI AL di Madrasah Aliyah Bustanul Ulum.
Di sana, sebuah kisah autentik lahir. Babinpotmar Midai, Serda Futra putra asli Pulau Midai membagikan perjuangan pahitnya: mendaftar TNI AL tiga kali gagal, namun pantang menyerah hingga akhirnya lulus dan dilantik.
“Saya tidak pernah nyerah demi cita-cita,” ucapnya lantang. Bagi Kolonel Ady, momen ini adalah manifesto bahwa negara wajib hadir memastikan mimpi anak-anak pulau terluar sama berharganya dengan mereka yang lahir di kota besar.

Kepedulian Kolonel Ady menjangkau nadi paling rentan: nelayan tradisional yang setiap hari bertaruh nyawa di lautan. Pada 22 April 2026, di Pos Lintas Batas Negara Serasan, ia turun langsung menyalami para nelayan dan menyerahkan bantuan life jacket. Suaranya lirih namun tegas saat mengingatkan,
“Keselamatan kalian adalah prioritas. Jangan biarkan cuaca buruk merenggut nyawa karena kita lalai memakai pelampung.” Di mata nelayan Serasan, ia bukan sekadar komandan berseragam putih yang terpaku di markas, melainkan sahabat yang paham pahitnya mencari ikan di tengah amukan ombak.
Sebagai pemimpin pangkalan, insting pertahanannya juga tak pernah surut. Pada 13 April 2026, dalam apel Jam Komandan di Aula Mess Tjiptadi, ia mencanangkan modernisasi sistem keamanan Mako Lanal Ranai dengan penambahan titik pantau CCTV.
“Ancaman di wilayah perbatasan semakin kompleks. Kita harus selangkah lebih maju dalam deteksi dini,” tegasnya. Di balik senyum ramahnya, tersimpan kewaspadaan seorang prajurit yang tak pernah lengah.

Puncak dedikasi yang memadukan kekuatan militer dan kemanusiaan tampak saat Lanal Ranai mendukung penuh Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026. Bekerja sama dengan Bank Indonesia, KRI Beladau-643 melaju ke wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Kecamatan Midai dan Subi.
Kolonel Ady menginstruksikan seluruh Posal menjadi titik dukungan logistik dan keamanan. “Ini operasi militer selain perang. Tugas kami memastikan rupiah layak edar sampai ke tangan saudara kita di pulau terpencil, karena itu bagian dari kedaulatan,” ujarnya. Ia membuktikan bahwa prajurit Jalasena adalah penjaga yang utuh menjaga wilayah, menopang ekonomi, dan menjunjung martabat rakyat.
“Natuna Rumah Kedua, Sekali Keluarga Selamanya Keluarga”
Kembali ke malam pelepasan di Gedung Serindit. Kolonel Ady Dharmawan menyampaikan sambutan dengan suara bergetar. Ia menyebut Natuna bukan sekadar tempat tugas, melainkan rumah kedua baginya dan keluarga.
“Natuna akan selalu ada di hati kami. Sekali keluarga, selamanya keluarga,” ucapnya. Bupati Cen Sui Lan pun menyerahkan cinderamata sebagai bentuk penghormatan, sembari menegaskan bahwa pintu Natuna akan selalu terbuka lebar.
Acara berlangsung penuh kehangatan, diawali tari persembahan, makan malam bersama, pemutaran video, hingga hiburan. Seluruh rangkaian berjalan aman dan kondusif.
Kerja nyata 10 bulan 20 hari itu adalah terjemahan konkret dari doktrin suci TNI AL, Jalesveva Jayamahe Justru di Lautan Kita Jaya.
Kolonel Ady tak hanya menegakkan tiga pilar utama Lanal (operasi keamanan laut, dukungan logistik, dan pembinaan potensi maritim), tetapi menambahkan pilar keempat, pilar cinta.
Cinta yang membuatnya rela berkeliling dari Midai ke Serasan, dari Mako ke geladak kapal, dari CCTV hingga jaket pelampung.
Kini, Kolonel Ady Dharmawan dipromosikan untuk menempuh pendidikan militer bergengsi di Australia. Sebuah lompatan karier mentereng yang membanggakan, tetapi bagi warga Natuna kepergian ini seperti melepas saudara tua.
Namun, sebagaimana ombak Natuna yang abadi, jejaknya akan terus bergema di hati para siswa Saka Bahari, nelayan Serasan, pemuda Midai, dan setiap prajurit yang pernah mendengar instruksinya.
Jalesveva Jayamahe. Di lautan luas pengabdian, ia akan terus berjaya. Australia hanyalah persinggahan sebelum samudera tugas yang lebih luas menanti. Justru di Laut kita jaya. Salam hormat dari kami, Redaksi Gurindam media.
(GRD)














