JAKARTA – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan bahwa pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) adalah strategi jitu.
Langkah ini tidak hanya ampuh menekan emisi metana secara signifikan, tetapi juga menjadi pilar penting dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, dalam forum bergengsi Climate Policy Initiative (CPI) bertajuk “Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi Metana untuk Sektor Industri di Indonesia” di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Dalam paparannya, Hokkop menyoroti potensi emas Indonesia yang memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit.
Ironisnya, potensi limbah cair yang mencapai 130 juta meter kubik per tahun ini belum dimanfaatkan secara optimal dan justru menjadi penyumbang emisi metana hingga 20 juta ton CO2e per tahun.
“Hampir 90 persen dari sumber emisi POME ini sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat agar bisa segera diimplementasikan,” ujar Hokkop dengan optimistis.
Untuk mempercepat realisasi, PLN EPI tidak tinggal diam. Perusahaan merancang ekosistem CBG terintegrasi dari hulu ke hilir. Dalam model bisnis ini, PLN EPI mengambil peran krusial sebagai agregator dan offtaker yang akan membeli dan mendistribusikan CBG, menghubungkan pabrik sawit, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, hingga sektor industri dan pembangkit listrik.
“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat,” tegas Hokkop, memberikan kepastian pasar bagi para investor dan produsen.
Sebagai langkah konkret, PLN EPI tengah mempersiapkan proyek percontohan cofiring CBG di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Belawan.
Simulasinya, untuk satu turbin gas berkapasitas 130 MW dengan tingkat cofiring 2,5 persen, dibutuhkan 330.000 meter kubik POME per tahun. Proyek ini diperkirakan mampu menghindari emisi hingga 500.000 ton CO2e.

Skema ini dinilai efisien karena memanfaatkan infrastruktur pembangkit gas yang sudah ada, sehingga dapat mempercepat peningkatan bauran energi terbarukan tanpa perlu membangun pembangkit baru berskala besar.
Dalam skala nasional, potensi pengembangan CBG dari limbah sawit sungguh masif. Untuk memenuhi kebutuhan cofiring 2,5 persen dari total 18,4 GW pembangkit gas di Indonesia, diperlukan sekitar 60.000 MMBTUD CBG. Ini berpotensi melibatkan 200 pabrik kelapa sawit dan memangkas emisi hingga 14 juta ton CO2e.
Tak hanya ramah lingkungan, pengembangan CBG juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Simulasi PLN EPI menunjukkan bahwa satu proyek fasilitas CBG dapat menciptakan nilai ekonomi hingga Rp1,7 triliun.
“Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang tadinya sumber masalah, kini bisa menjadi sumber energi bernilai tambah,” pungkas Hokkop.
PLN EPI pun telah menyiapkan peta jalan pengembangan bisnis CBG secara bertahap hingga 2030, dengan target peningkatan kapasitas produksi signifikan sebagai bagian dari dukungan terhadap program dedieselisasi dan target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Sumber: RM.ID/GRD














