Turki Dikabarkan Hendak Kembalikan Hagia Sophia Menjadi Masjid. Benarkah?

Mencerdaskan & Memuliakan - Juli 5, 2020
Turki Dikabarkan Hendak Kembalikan Hagia Sophia Menjadi Masjid. Benarkah?
Bangunan bersejarah Hagia Sophia di Istanbul Turki. Erdogan dikabarkan hendak mengubahkan menjadi masjid dari sebelumnya bangunan museum/foto reuters via sindonews.com - (Gurindam.id)
Editor Nasrul

Turki, Gurindam.id – Berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya, Presiden Turki, Recep Erdogan cenderung terlibat aktif dalam percaturan politik internasional. Bahkan, kini cengkeraman pengaruhnya melintasi tapal batas Turki.

Setelah menggertak Donald Trump, Presiden Amerika Serikat terkait pembatalan pembelian pesawat tempur, kini dikabarkan Erdogan berencana mengembalikan Hagia Sophia menjadi masjid seperti di masa kebesaran Turki Usmani.

Langkah itu seperti menganulir kebijakan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, bapak sekulerisme Turki, selama bertahun-tahun terakhir. Seperti diketahui, Mustafa Kemal mengubah Hagia Sophia, Ayasofya dalam bahasa Turki, dari masjid menjadi museum.

Sebelum menjadi masjid, Hagia Sophia dulunya gereja Kristen Ortodoks di masa Imperium Bizyantium, sebagian literatur menyebutnya Kekaisaran Romawi Timur. Setelah Konstantinopel Jatuh, penguasa Turki Usmani mengubahnya menjadi masjid.

Sontak, kabar rencana itu memantik kritik petinggi senior Gereja Kristen Ortodoks Rusia. “Tak dapat diterima,” ujar petinggi itu, seperti dilansir Aljazeera. Seperti diketahui, Erdogan dikabarkan mengajukan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid.

Selama ini, Unesco telah menetapkannya menjadi situs warisan dunia, saksi bisu pergolakan ideologi di masa lalu, dan kini menjadi situs paling banyak dikunjungi wisatawan di Turki. “Kita tak dapat kembali ke (masa) Abad Pertengahan sekarang,” ujar Metropolitan Hilarion, Ketua Departemen Luar Negeri Gereja Patriachate Moskow, di televisi nasional Rusia.

Pengadilan di Turki, awal pekan ini menyidangkan permohonan pengubahan Hagia Sophia menjadi masjid, dan putusan persidangan dijadwalkan akhir bulan ini. Gugatan ke pengadilan soal pengalihan status itu diajukan sebuah LSM pelestarian bangunan bersejarah di Turki.

Mereka mempersoalkan legalitas keputusan pemerintah Turki di tahun 1934, di awal-awal kekuasaan Mustaf Kemal Ataturk. Berdalih sekulerisme, Ataturk mengubah Masjid Ayasofya menjadi museum saat itu. Namun gugatan itu mengundang kritikan dari sejumlah politisi dan pemimpin agama.

Baca Juga  Malaysia Batasi Bekerja di Kantor Hanya 10 Persen Mencegah Penyebaran Covid 19

Ecumenical Patriarch Bartholomew semisal, pemimpin spiritual 300 juta penganut Kristian Ortodoks dunia, dari Istanbul mengatakan langkah gugatan itu akan mengecewakan umat Kristiani dunia.

Tak ketinggalan, Menlu Amerika Serikat, Mike Pompeo, seorang protestan konservatif di Amerika Serikat, juga mendesak Turki tak mengubah status Hagia Sophia. Apa jawaban Erdogan? Kritik asing itu, tegas Erdogan, tak ubahnya serangan terhadap kedaulatan Turki. (*)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X