Ilham Bintang, Dari Daun Daun Kecil Kehidupan ke ‘White House’

Mencerdaskan & Memuliakan - Juli 5, 2020
Ilham Bintang, Dari Daun Daun Kecil Kehidupan ke ‘White House’
Ilham Bintan bersama keluarga tercinta - (Gurindam.id/Ist-FB-Ilham Bintang)
Editor Nasrul

 

Penulis: Fiam Mustamin, Dewan Redaksi Gurindam.id

DUA kata dalam judul tulisan itu untuk menguraikan hubungan emosional persaudaraan saya dengan H. Ilham Bintang tokoh Pers Indonesia ini.

Saya di Jakarta diawal tahun 1970 an bergaul dipusaran elit kota mengikuti H. Zainal Bintang, budayawan dan wartawan senior dari Makassar.

Dari abang senior itu yang kemudian disapa singkat dengan Daeng Aji mengenalkan saya akrab dengan keluarga besarnya antaranya Ilham Bintang dan Firman Bintang.

Dengan itu pula saya terikut belajar dalam percaturan pemikiran pemikiran Kebudayaan Kesenian di Taman Ismail Marzuki dan Jurnalistik.

Untuk saya ceritakan pengalaman persaudaraan ini dengan Haji Ilham ini bisa menjadi sebuah buku cerita sehari semalam.

Di awal awal pertemuan itu saya sering dibawah ke komunitas penyiar radio Queen Halimun Menteng, penggiat teater bersama Tommy Sumarni, Sultan Saladin dan El Manik.

Lalu kemudian Ilham aktif jadi wartawan di Harian Angkatan Besenjata yang banyak ditugaskan keluar kota dari tahun 1976.

Sesibuk apapun kami selalu bertemu di rumah kostnya Cikini Kecil dan terkadang ikut berboncengan sepeda motor ke tempat peliputannya.

Daun Daun Kecil Kehidupan

Kata-kata itu menjadi percakapan kami untuk penggambaran kesederhanaan mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Meski kata kata itu bernuansa simbolik/kiasan tapi kami begitu senang mengucapkannya.

Di rumah ‘villa wartawan’ kawasan Tapos Bogor yang sejuk kami bernostalgia dari daun daun kecil yang pada suatu masa berkeinginan berlibur akhir pekan dan menulis puisi.

Kemudian hari saya betul-betul merasakan pada diri sosok pribadi saudaraku Haji Ilham Bintang ini yang tak ada berubah.

Pada diri pengagas jurnalistik infotemen ini begitu kental pemahaman dan praktek budaya pangadereng Bugisnya sekalipun iya dibesarkan di lingkungan perkotaan.

Baca Juga  Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak

Dan daun kecil itu tumbuh di pohon….

Pohon ciptaan yang cantik… melindungi dan menghidupi sekitarnya.

Kami tak pernah terpisah sejak bujangan saat itu dari kost ke rumah tinggal orang tua yang saya anggap orang tuaku sendiri sampai Ilham menikah tinggal di Tomang sampai di Meruyah saat ini.

The White House Meruya

Rumah tinggal serumpun anak-anak di kawasan perumahan DKI Meruya Jakarta Barat saya memberi nama White House Meruya.

Rumah besar dan berhalaman luas itu yang ditempatinya itu bercat putih nampak menonjol begitu kita memaki gerbang kawasan itu.

Terasa seperti ada suara yang memanggil-manggil untuk mampir menyinggainya, dari suara pemiliknya pasangan hidup dari Minang dan Bugis; Hajah Ades Tamin dan Haji Ilham Bintang.

Mengapa dengan nama rumah itu…Saya terinspirasi dari gedung White House Kepresidenan USA meskipun saya belum kesana.

Di rumah Meruya itu setiap saat diadakan majelis keagamaan keluarga, buka puasa dan tarwih bersama keluarga dan kerabat pasangan itu.

Dan di rumah itu pula memberi inspirasi membicarakan dan menuliskan hal hal kebajikan dan kemaslahatan hajat bersama, barakalllah …

Segera berlalulah wahai Pandemi Covid 19 kami rindu bertablik. (*)

 

Tinggalkan Komentar

Close Ads X