Status Karhutla Natuna Turun dari Tanggap Darurat Menjadi Siaga Darurat

Pesawat OMC Thrush
Pesawat OMC Thrush

NATUNA – Pemerintah Kabupaten Natuna resmi menurunkan status penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dari tanggap darurat menjadi siaga darurat. Keputusan ini diambil setelah titik api di sejumlah wilayah menunjukkan tren penurunan signifikan dan kondisi udara mulai membaik.

Penurunan status tersebut diputuskan dalam Rapat Evaluasi Penetapan Penanganan Status Bencana Karhutla yang digelar di Ruang Dinas Operasi (Disops) Lanud Raden Sadjad, Rabu malam.

Rapat dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna, Danlanud Raden Sadjad, Danlanal Ranai, perwakilan BNPB, Kajari Natuna, Kepala BMKG, Kepala BPBD, serta pimpinan OPD terkait. Bupati Natuna mengikuti jalannya rapat secara virtual melalui Zoom Meeting.

Penurunan status tersebut diputuskan dalam Rapat Evaluasi Penetapan Penanganan Status Bencana Karhutla yang digelar di Ruang Dinas Operasi (Disops) Lanud Raden Sadjad, Rabu malam.
Penurunan status tersebut diputuskan dalam Rapat Evaluasi Penetapan Penanganan Status Bencana Karhutla yang digelar di Ruang Dinas Operasi (Disops) Lanud Raden Sadjad, Rabu malam.

Tren Penurunan Titik Api dan Upaya Water Bombing

Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Raja Darmika, memaparkan bahwa sebagian besar titik api telah berhasil dipadamkan, termasuk melalui upaya water bombing di lokasi yang sulit dijangkau. Kondisi ini menjadi dasar utama rekomendasi perubahan status darurat.

“Patroli rutin di wilayah rawan karhutla akan ditingkatkan, posko siaga darurat didirikan, serta koordinasi lintas instansi akan terus diperkuat,” ujar Raja Darmika dalam paparannya. Pihaknya juga akan memantau hotspot harian melalui satelit dan pengecekan lapangan.

Edukasi kepada masyarakat terkait larangan pembakaran lahan serta penyiapan sarana prasarana pemadaman juga akan terus dioptimalkan guna mencegah kebakaran susulan.

Danlanud Raden Sadjad menegaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, titik api akibat aktivitas manusia mengalami penurunan signifikan. Hal ini menjadi dasar kuat untuk menurunkan status penanganan. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Danlanal Ranai serta Kajari Natuna, yang menilai kondisi sudah relatif terkendali dan dapat dilanjutkan dalam status siaga dengan pengawasan ketat.

Menindaklanjuti hasil pembahasan tersebut, Bupati Natuna menyetujui usulan Forkopimda. Keputusan ini diharapkan tetap diiringi dengan kesiapsiagaan seluruh pihak.

BACA JUGA :  Pemerintah RI Konsisten Menyampaikan Pesan Tegas Kepada Pelaku Ilegal Fishing Di Laut Indonesia

Kualitas Udara Berstatus “Sedang”, Masyarakat Diimbau Waspada

Meskipun status darurat diturunkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna mencatat bahwa kualitas udara di Ranai, ibu kota kabupaten, masih berada pada kategori sedang. Data ini diperoleh dari pemantauan melalui aplikasi pemantau kualitas udara dan citra satelit.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Natuna, Harmidi, menjelaskan bahwa kondisi udara semalam sempat berada dalam kategori baik, namun siang harinya berubah menjadi sedang. Hal ini diduga dipengaruhi oleh karhutla di sejumlah lokasi dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 100 hektare.

“Kategori sedang menunjukkan kualitas udara masih dapat diterima, tetapi berpotensi menimbulkan dampak bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, serta penderita gangguan pernapasan,” ujar Harmidi.

DLH Kabupaten Natuna mengimbau masyarakat, terutama kelompok sensitif, untuk, Mengurangi aktivitas di luar ruangan, Menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, Menjaga kondisi kesehatan dengan memperbanyak konsumsi air putih.

Pemerintah Kabupaten Natuna menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya pengendalian karhutla, serta mengedepankan langkah preventif demi menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

(Grd/hms)

 

Editor: Riky Rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *