GURINDAM.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia harus memiliki militer yang kuat untuk menjaga kedaulatan bangsa di tengah gejolak dunia yang semakin tidak menentu.
Pernyataan ini semakin relevan menyusul peringatan keras dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menyebut sinyal potensi Perang Dunia Ketiga sudah sangat kuat.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo yang berpengalaman sebagai Menteri Pertahanan sebelum menjabat sebagai Presiden ke-8 menekankan bahwa tanpa kekuatan pertahanan yang tangguh, sebuah bangsa berisiko “dilindas” oleh kekuatan asing, sebagaimana dialami rakyat Gaza di tengah konflik berkepanjangan.
“Ini penting untuk menjaga kedaulatan Indonesia. Tanpa ada kekuatan militer, sejarah peradaban manusia mengajarkan bahwa bangsa itu akan dilindas seperti di Gaza sekarang ini, akan diambil kekayaannya, akan diusir dari Tanah Air-nya. Tidak bisa tidak, kita harus kuat,” tegas Prabowo.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan alam melimpah, Indonesia telah menjadi sasaran intervensi asing selama ratusan tahun. Bahkan pasca-kemerdekaan, ancaman terhadap wilayah dan sumber daya tetap nyata.
“Negara kita sangat besar, sangat kaya. Ratusan tahun negara-negara dari jauh datang ke Nusantara ini untuk intervensi, untuk mengganggu, untuk adu domba, dan untuk mencuri kekayaan kita,” ujar Prabowo. Ia menambahkan, fungsi utama negara adalah melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945.
Untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dengan pekerjaan layak dan hidup bermartabat Indonesia harus menjaga serta mengelola kekayaan nasionalnya secara mandiri. “Untuk kita menjadi negara makmur, sejahtera, untuk rakyat kita hidup layak, punya pekerjaan layak, kita harus menjaga kekayaan kita,” tandasnya.
Pernyataan ini sejalan dengan komitmen politik luar negeri bebas aktif: Indonesia tidak memihak blok mana pun di dunia yang terpecah belah. “Indonesia tidak mau memihak blok mana pun. Namun, karena itu, tidak ada pilihan lain, Indonesia harus punya pertahanan yang sangat kuat,” kata Kepala Negara.
Penguatan militer menjadi bentuk antisipasi terhadap ketidakpastian global, di mana konflik terus meletus di Eropa, Timur Tengah, dan kawasan strategis lainnya.
Peringatan serupa datang dari SBY dalam kuliah umum tertutup di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Jakarta Pusat, pada Senin (23/2/2026).
Mantan presiden yang juga jenderal purnawirawan itu menilai potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga bukan lagi spekulasi, melainkan ancaman nyata dengan sinyal yang semakin kuat.
Gubernur Lemhannas, Ace Hasan Syadzily, menyampaikan ringkasan pesan SBY: “Beliau menyebutkan mungkin akan terjadi perang dunia ketiga karena beberapa potensi bagi terjadinya konflik di kawasan itu nyata, sinyalnya sudah sangat kuat.” SBY menyoroti titik api global, termasuk Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea, dinamika Cina-Taiwan, konflik Palestina-Israel-Iran-AS, hingga isu strategis seperti Greenland.
Menghadapi ancaman ini, SBY menyerukan penguatan ketahanan nasional secara komprehensif: diplomasi cerdas dengan kekuatan besar (AS, China, Rusia), kemandirian pangan untuk antisipasi gangguan logistik, serta modernisasi kekuatan militer dan industri pertahanan dalam negeri.
Ace Hasan mengapresiasi langkah diplomasi pemerintahan Prabowo yang dinilai telah berjalan baik, sambil menekankan bahwa diplomasi saja tidak cukup perlu didukung militer tangguh dan ketahanan ekonomi-sosial.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dengan perang besar di berbagai benua dan bangsa lemah dibantai tanpa daya Indonesia dihadapkan pada pilihan tegas: tetap cinta damai, namun siap membela diri.
Kekuatan pertahanan yang mumpuni bukan untuk menyerang, melainkan untuk memastikan rakyat aman, kedaulatan utuh, dan masa depan generasi mendatang terlindungi.
Indonesia harus kuat bukan karena ingin perang, tapi karena tak ingin menjadi korban ketidakadilan geopolitik. Sejarah telah mengajarkan bangsa yang lemah akan dilindas, sementara yang tangguh akan dihormati dan mampu menjaga perdamaian sejati.
(Grd/gas)













