SURABAYA – Di tengah kesibukan menjaga kedaulatan laut negeri, para Prajurit Jalasena tak pernah melupakan satu hal penting: kedekatan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Pada Kamis (8/10/2026), prajurit Jalasena mengikuti kegiatan Kauseri Agama secara terpusat di bawah jajaran Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI) melalui video conference (vicon).
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen TNI Angkatan Laut dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta membentuk karakter prajurit yang religius dan humanis.
Kauseri Agama kali ini dipimpin oleh Kodaeral X sebagai tuan rumah (host). Kegiatan dilaksanakan secara serentak di tempat ibadah sesuai agama masing-masing, yakni Masjid Al Mahdi Koarmada II bagi umat Islam, Pura Jala Wira Dharma Koarmada II bagi umat Hindu, serta Gereja GPIB Galilea Pasiran bagi umat Kristiani. Satu semangat, satu tujuan: memperkokoh iman dan takwa, apa pun agama dan keyakinannya.
Pada kauseri agama Islam, pembinaan rohani disampaikan oleh Ustadz H. Muhammad Taufik, S.Sos.I., M.Pd., Gr., selaku Pimpinan Pondok Pesantren Darul Qur’an Wada’wah Argapura, Provinsi Papua.
Mengangkat tema “Mewujudkan Prajurit yang Religius, Humanis dan Dicintai Rakyat”, pembinaan ini menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan sebagai landasan moral dalam menjalankan tugas, sekaligus membangun sikap humanis dalam kehidupan bermasyarakat.
“Prajurit yang religius adalah prajurit yang tahu kepada siapa ia mengabdi, dan prajurit yang humanis adalah prajurit yang tahu untuk siapa ia berjuang—yakni rakyat,” pesan Ustadz Taufik kepada para prajurit.
Pembinaan Rohani Umat Kristiani dan Hindu: Toleransi dalam Bingkai Kebangsaan
Sementara itu, pembinaan rohani bagi prajurit beragama Kristiani disampaikan oleh Pendeta Joice Hamumahu Ayer, S.Si.Teol., dengan tema serupa, yakni “Mewujudkan Prajurit yang Religius, Humanis dan Dicintai Rakyat”. Adapun bagi prajurit beragama Hindu, pembinaan dipimpin oleh Letda Laut (KH) Putu Febri dengan mengangkat tema “Tri Hita Karana”, yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta lingkungan.
Keberagaman ini bukanlah perbedaan, melainkan kekuatan. Di tubuh TNI AL, semua prajurit berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, dipersatukan oleh satu ikrar: Sumpah Prajurit dan Sapta Marga.
Melalui penyelenggaraan Kauseri Agama secara serentak ini, diharapkan seluruh prajurit Koarmada II semakin memperkokoh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan dalam setiap pelaksanaan tugas. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk membentuk pribadi prajurit TNI AL yang berintegritas, berakhlak mulia, menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama, serta senantiasa hadir sebagai prajurit yang profesional, humanis, dan dicintai rakyat.
Bagi prajurit Jalasena, menjaga laut bukan hanya soal alutsista dan strategi. Lebih dari itu, ada nilai-nilai spiritual yang menjadi kompas moral, kejujuran, keberanian, kesetiaan, dan cinta pada rakyat. Kauseri Agama hadir untuk merawat nilai-nilai itu, agar tak lekang oleh waktu dan tak pudar oleh tantangan.
Prajurit Jalasena dikenal sebagai penjaga laut Nusantara. Namun di balik seragam dan senjata, mereka adalah manusia yang percaya pada kekuatan doa dan pentingnya akhlak. Kegiatan Kauseri Agama ini menjadi pengingat bahwa kekuatan militer tidak cukup tanpa kekuatan iman. Dan kehadiran prajurit di tengah masyarakat tidak akan bermakna tanpa sentuhan hati yang humanis.
Dengan semangat “Religius, Humanis, dan Dicintai Rakyat”, Prajurit Jalasena terus berbenah bukan hanya menjadi prajurit yang tangguh di medan tugas, tetapi juga menjadi pribadi yang rendah hati, ramah, dan mengayomi. Karena pada akhirnya, prajurit terbaik adalah mereka yang mampu menjaga negara sekaligus mencintai rakyatnya.
(Pen/2)














