JAKARTA – Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) resmi melantik jajaran Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah untuk masa bakti 2026-2030 dalam sebuah seremoni kebangsaan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026). Momentum pelantikan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, namun juga panggung klarifikasi isu strategis dari Utusan Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo.
Hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Penasehat INTI, Hashim menyampaikan pesan mendalam mengenai identitas kebangsaan sekaligus merespons kegelisahan dunia usaha.
Kehadiran tokoh negara seperti Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, Anggota DPD Yorrys Raweyai, Jaksa Agung Muda Intelijen Reda Manthovani, dan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Narendra Jatna, turut menegaskan kuatnya sinergi pemerintah dengan organisasi kemasyarakatan.

Keberagaman Genetik sebagai Perekat Bangsa
Dalam sambutannya, Hashim mengungkapkan fakta mengejutkan yang justru menjadi simbol toleransi. Ia menceritakan hasil tes DNA yang dijalaninya bersama Presiden Prabowo Subianto pada 2023 lalu.
“Kejutannya adalah kami ada genetika India. Pak Prabowo dan saya keturunan India, namun juga ada darah Tionghoa,” ujar Hashim di hadapan para peserta.
Pernyataan ini ia lontarkan untuk menekankan bahwa secara biologis, masyarakat Indonesia adalah campuran dari berbagai ras. Hashim menegaskan bahwa perbedaan latar belakang etnis seharusnya melebur dalam satu identitas tunggal sebagai bangsa Indonesia, sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Beralih ke isu ekonomi, Hashim angkat bicara menanggapi keresahan yang ia dengar dari jaringan investor global. Ia secara tegas membantah anggapan bahwa pemerintahan saat ini bersikap tertutup atau tidak ramah terhadap pelaku usaha.
“Saya mendengar beberapa waktu ini dari kawan-kawan saya dari Tiongkok, Hongkong, juga kawan-kawan saya orang Jawa di Amerika yang punya investasi di Indonesia, seolah-olah ada kecemasan bahwa pemerintah Prabowo dan Gibran tidak bersahabat atau tidak pro pengusaha,” kata Hashim.
Ia menekankan bahwa pemerintah sangat terbuka terhadap kritik, asalkan disampaikan secara konstruktif dan tidak mengarah pada pelanggaran hukum atau tindakan makar. Klarifikasi ini menjadi sinyal kuat untuk menjaga stabilitas iklim investasi nasional.
Di sisi organisasi, Ketua Umum INTI Indra Wahidin menegaskan bahwa kepengurusan baru mengusung tagline “Inklusif, Nasionalis, Toleransi, dan Independen”. Pelantikan ini dianggap bukan sekadar seremoni, melainkan tonggak awal pengabdian yang lebih terstruktur.
INTI memaparkan serangkaian program strategis jangka pendek dan panjang. Ketua Harian PP INTI, Ulung Rusman, menjelaskan bahwa kolaborasi telah dijalin dengan Kementerian Hukum melalui program “Pasti Ada Solusi” untuk membantu pelaku usaha menghadapi kendala birokrasi dan kewarganegaraan.
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Hardy Stefanus merinci sejumlah program unggulan yang akan digulirkan, Beasiswa Pelangi INTI dan kerja sama Chinese Government Scholarship (CGS). Program Magang Berbayar dan pengembangan UMKM. Operasi Pasar bekerja sama dengan Perum BULOG serta Penguatan LKBH INTI untuk advokasi hukum masyarakat.
Dengan jaringan yang kini tersebar di lebih dari 18 provinsi dan 80 cabang, INTI optimistis mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencetak SDM unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.
(Bro/GRD)














