PERAIRAN TANJUNG – Gelombang tenang di perbatasan Indonesia–Malaysia, Sabtu (13/6), menjadi saksi bisu sebuah proses kenegaraan yang sarat makna. Di bawah panji “Jalesveva Jayamahe”, Komando Daerah Maritim (Kodaeral) XII melalui Posal Temajuk dan Pos Babinpotmar Pemangkat melaksanakan misi kemanusiaan dan penegakan kedaulatan
secara bersamaan mengantarkan, mengawal, dan menyerahkan kembali Kapal Ikan Asing (KIA) PAF 4653 U1 kepada Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) di perairan Tanjung Dato.
Operasi ini bukanlah sekadar rutinitas birokrasi. Ini adalah wajah diplomasi maritim yang mengedepankan ketertiban hukum tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.
Setelah sebelumnya melalui proses pemeriksaan dan pendalaman kasus, KIA PAF 4653 U1 kini diantar pulang ke bendera asalnya dengan pengawalan ketat dan penuh kehormatan, memastikan setiap awak kapal mendapatkan haknya untuk kembali dengan selamat dan bermartabat.
Perjalanan dimulai dari Perairan Temajuk. Personel gabungan TNI AL yang dipersenjatai dengan kewaspadaan tinggi dan hati penuh tanggung jawab melakukan pengecekan akhir terhadap kondisi kapal dan awaknya.
Selanjutnya, dengan dikawal ketat, kapal ikan tersebut diiringi menuju titik pertemuan yang telah ditentukan di sekitar Tanjung Dato, garis maya yang memisahkan dua negara sahabat.
Prosesi serah terima berlangsung lancar dan penuh rasa saling percaya. Di atas dek kapal yang bergoyang pelan, perwakilan Kodaeral XII dan APMM menandatangani berita acara serah terima secara resmi.
Dokumen itu menjadi simbol bahwa perbedaan bendera tidak menghalangi kerja sama. “Kami tidak hanya menegakkan kedaulatan, tetapi juga mengedepankan rasa kemanusiaan. Para awak kapal berhak kembali ke negaranya dengan selamat, dan kami hadir untuk memastikan itu,” ujar Danposal Temajuk mewakili Kodaeral XII, menggemakan semangat profesionalisme TNI AL.
Komandan Kodaeral XII menekankan bahwa kegiatan ini adalah cerminan peran ganda TNI AL di wilayah perbatasan.
Di satu sisi, setiap pelanggaran di laut harus ditindak tegas untuk menjaga kedaulatan. Di sisi lain, penyelesaian kasus harus tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dan nilai-nilai kemanusiaan, terlebih ketika berhadapan dengan nelayan atau awak kapal yang menjadi ujung tombak ekonomi.
“Dengan selesainya proses serah terima ini, kami tidak hanya menuntaskan satu kasus. Kami memperkuat fondasi kepercayaan dan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia di bidang maritim. Di laut, kita bersaudara, dan hukum harus ditegakkan tanpa melukai rasa persaudaraan itu,” imbuh pernyataan resmi tersebut.
Simbol Jalesveva Jayamahe yang Hidup
Misi ini menjadi bukti nyata bahwa slogan Jalesveva Jayamahe ”di laut kita jaya” tidak berhenti pada superioritas kekuatan tempur. Kejayaan di laut juga berarti mampu menjaga ketertiban, merawat perdamaian, dan menegakkan hukum dengan hati.
Kodaeral XII, melalui jajaran terdepannya, telah menunjukkan bahwa kedaulatan dan kemanusiaan adalah dua layar yang dapat mengembang bersama di bawah komando TNI Angkatan Laut.
Kini, KIA PAF 4653 U1 telah kembali ke pangkuan negaranya. Hubungan baik antarnegara di Selat Malaka kembali dipertegas. Sementara itu, Kodaeral XII tetap siaga, memastikan setiap inci perairan perbatasan aman dari ancaman, dan setiap jiwa yang berlayar di atasnya dilindungi oleh semangat kemanusiaan.
(GRD/pen)














