JAKARTA – Di tengah lonjakan arus balik yang mencapai 18.000 kendaraan antre menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, TNI Angkatan Laut di bawah komando Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali mengerahkan kekuatan besar, satu unit KRI Teluk Kupang-519 dan lebih dari 300 personel gabungan.
Bukan untuk latihan perang, melainkan untuk memutus kemacetan dan menjaga denyut nadi mudik rakyat Indonesia timur.
Keputusan ini menjadi bukti nyata visi “Jalesveva Jayamahe” – di laut kita jaya – yang tidak hanya berarti unggul dalam pertempuran, tapi juga hadir sebagai pelindung di saat rakyat paling membutuhkan.
”Ketika daratan sesak oleh kendaraan dan penat penumpang, laut harus menjadi solusi. TNI AL tidak boleh menunggu. Kita bergerak cepat, terukur, dan humanis,” tegas Laksamana Muhammad Ali dalam arahan jarak jauh dari Markas Besar Angkatan Laut, Rabu malam.

Di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, antrean kendaraan membentang hingga 6 kilometer ke arah Pantai Grand Watudodol. Kapasitas pelayanan harian normal hanya 2.770 unit, sementara volume kendaraan yang mengantre mencapai 18.000 unit – lonjakan lebih dari 500 persen akibat berhimpitnya Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
Namun, di bawah komando lapangan Letkol Laut (P) Muhamad Puji Santoso, M.Sc. (Danlanal Banyuwangi), TNI AL tidak sekadar mengatur lalu lintas. Mereka melakukan tiga langkah visioner:
1. Mobilisasi KRI sebagai Komando Taktis Bergerak
KRI Teluk Kupang-519 tidak hanya berlabuh, tetapi dijadikan pusat koordinasi satuan tugas (Satgaspam) dan posko kesehatan terapung. Kapal perang itu juga siaga mengevakuasi darurat medis dari tengah kemacetan.
2. Patroli Cerdas Roda Dua di Titik Buta
Ratusan personel bersepeda motor menerobos sela-sela kendaraan, membagikan air minum, memberikan informasi real-time, sekaligus mengamankan barang bawaan pemudik yang kelelahan. Sebanyak 47 kejadian darurat (sesak napas, anak terpisah, hingga kehabisan bahan bakar) berhasil ditangani di lokasi.
3. Rekayasa Bongkar Muat 35 Kapal dalam 24 Jam
Hasil rapat koordinasi yang dipimpin Dansatgaspam bersama KSOP, ASDP, Dishub, dan Polri, armada kapal ro-ro ditambah dari 27 menjadi 35 unit. Sistem double ramp dan prioritas kendaraan logistik diterapkan, memangkas waktu tunggu dari 12 jam menjadi rata-rata 5 jam per kendaraan.
Di tengah terik dan debu, seorang nenek bernama Rohimah (68) asal Lombok hampir pingsan kehabisan obat diabetesnya. Personel TNI AL dari KRI Teluk Kupang langsung menurunkan tim medis menggunakan perahu karet menyusuri antrean. Dalam 20 menit, nenek itu selamat.
”Saya kira mau mati di sini. Terima kasih Pak Tentara Laut, malaikat tak pakai sayap,” ucapnya terbata.
Kisah seperti ini mewarnai setiap hari operasi penguraian kemacetan. Letkol Puji Santoso menyatakan, “Kami tidak hitung unit kendaraan, kami hitung detak jantung rakyat. Aman dan selamat sampai tujuan adalah zero accident kami,” lugasnya.
(Pan/grd)













