SERASAN – Langit Kepulauan Serasan, Natuna, sempat diliputi ketegangan selama hampir Dua pekan. Sebuah kapal tongkang berbendera Malaysia bermuatan batu silika nyaris menjadi bencana ekologis setelah mainhole (lubang pemeriksaan) terlepas dan air laut masuk deras ke dalam lambung.
Namun, tangan-tangan sigap Prajurit TNI Angkatan Laut (TNI AL) bersama masyarakat nelayan setempat hadir menjadi pahlawan mengubah ancaman tragedi menjadi kisah penyelamatan yang mengharukan.
Operasi darurat yang masuk dalam agenda Operasi Militer Selain Perang (OMSP) ini tidak hanya menyelamatkan 9 anak buah kapal (ABK) dari maut, tetapi juga mengamankan alur pelayaran strategis di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat seaman brotherhood persaudaraan sejati antar pengguna laut menjadi kunci utama keberhasilan evakuasi yang penuh pengorbanan ini.
“Masyarakat nelayan membantu pengurasan air yang di dalam tongkang. Mereka turun langsung tanpa pamrih,” ujar Danposal Serasan dengan nada haru.

Kisah ini bermula pada 9 Maret 2026. Kapal TB. Power JME 11 bersama tongkang TK. Power JME 12 berlayar tenang dari Lumut, Malaysia, menuju Bintulu, Serawak, dengan muatan batu silika. Namun, pada 17 Maret 2026, di tengah ganasnya Perairan Natuna (01° 59.018′ U – 107° 56.623′ T), bencana datang. Mainhole tongkang terlepas. Air laut merangsek masuk bagai tak terbendung.
Bayangkan ketakutan yang dirasakan oleh 9 ABK yang terdiri dari 2 Warga Negara Indonesia (WNI) dan 7 Warga Negara Asing (WNA).
Kapal mulai miring signifikan. Di tengah kepanikan, sebuah titik terang muncul. Perahu nelayan Serasan yang dikemudikan Bapak Gundala mendekat. Tanpa ragu, sang nelayan bergerak cepat memberikan bantuan evakuasi awal.
“Kami mendapat informasi dari nelayan pada pukul 14.40 WIB. Langsung kami gerak cepat. Ketika malam tiba, kapal itu sudah kami amankan di alur masuk Serasan,” ujar Pjs. Danposal Serasan, B. Tony Hermawan, Serma Kom kepada gurindam.id.

Insiden ini bukan sekadar kecelakaan laut biasa. Jika dibiarkan, kapal miring itu bisa menghalangi jalur keluar masuk kapal di Serasan bahkan berpotensi mencemari laut jika muatan batu silika tercecer. Maka, muncullah kolaborasi sejati. Di bawah koordinasi Pos Angkatan Laut (Posal) Serasan.
Prajurit TNI AL (Babinpotmar) Pemantauan siang malam tanpa henti, Syahbandar Serasan Arga Parjoro Sidabalok Pengawasan regulasi pelayaran.
Imigrasi Natuna Rama Agung Sanjaya & Kevin Revanza Pemeriksaan dokumen dan status keimigrasian ABK, 15 Nelayan Serasan Tenaga sukarela, perahu, dan pengurasan air.
Hasil pemeriksaan dokumen kapal, ABK, dan muatan tidak menemukan pelanggaran administratif. Yang terpenting: tidak ada korban jiwa. Meski kerugian material masih dalam pendataan, keselamatan 9 nyawa menjadi prioritas utama yang berhasil diamankan.
Proses evakuasi yang berlangsung 11 hari ini menghadapi tantangan teknis yang tidak mudah. Tongkang yang dikandaskan di Gosong Haji, Serasan, harus diselamatkan dari ancaman tenggelam melalui serangkaian perbaikan darurat dan pengurasan air laut.
Berikut perjuangan tim gabungan yang patut diapresiasi:
Hari pertama: Pengecekan mainhole yang hilang, pembuatan mal sementara dengan peralatan seadanya.
Percobaan melelahkan: Dengan hanya 5 mesin alkon (pompa air), mereka berjuang menguras air. Hasilnya hanya naik 20 cm—tapi semangat tak padam.
Inovasi heroik (25 Maret): Modifikasi mainhole dengan plat dan 2 pipa besi. Sebanyak 14 alkon dioperasikan bergantian siang malam.
Kesuksesan yang mengharukan (26-27 Maret): Tongkang mulai rata dengan air. Air dalam tongkang habis total. Pengecekan menyeluruh memastikan tidak ada kebocoran lagi.
“Setelah itu, kami kunci mainhole, kami cor agar kuat. Kapal ini sekarang sudah layak berlayar,” ungkap salah satu anggota tim dengan wajah lelah namun penuh syukur.

Apresiasi Danlanal Ranai: Ini Wujud Nyata Tugas Mulia TNI AL
Keberhasilan evakuasi ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Ranai, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan. Ia menegaskan bahwa aksi sigap ini adalah pelaksanaan nyata dari amanat Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
“Operasi Militer Selain Perang (OMSP) adalah tugas mulia. Membantu kesulitan masyarakat, menolong nyawa, dan menjaga laut kita. Saya ajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan,” pesan Kolonel Ady.
Rencana Keberangkatan: Pulang dengan Selamat
Setelah seluruh proses perbaikan dan pemeriksaan dinyatakan rampung, kapal TB. Power JME 11 dan TK. Power JME 12 direncanakan melanjutkan pelayaran pada 28 Maret 2026 menuju Bintulu, Malaysia.
Selama proses pemantauan hingga keberangkatan, Posal Serasan bersama Syahbandar dan Imigrasi terus memastikan keamanan dan kelancaran alur pelayaran di Perairan Serasan.
Kisah heroik di Perairan Serasan ini meninggalkan pesan mendalam: di tengah tegasnya batas negara, nilai-nilai kemanusiaan tetap menyatu.
Sinergi solid antara TNI AL, pemerintah daerah, dan masyarakat nelayan membuktikan bahwa Indonesia hadir melindungi bukan hanya untuk warga negaranya, tetapi juga bagi siapa pun yang membutuhkan pertolongan di laut Nusantara.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang digencarkan TNI AL di wilayah perbatasan mampu memberikan dampak positif bagi keselamatan pelayaran, keamanan objek vital nasional, serta stabilitas kawasan. (Grd/pen)













