GURINDAM.ID – Dunia memasuki fase kritis menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Konflik yang memicu aksi balasan dari Teheran tersebut berujung pada keputusan paling dramatis, penutupan Selat Hormuz. Langkah Iran ini langsung mengancam pasokan energi global, mengingat 20% minyak dunia melintasi jalur strategis tersebut.
Di tengah kekhawatiran akan krisis energi dan eskalasi perang terbuka, Indonesia muncul dengan langkah diplomatik berani. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan untuk terbang ke Teheran sebagai mediator, menawarkan diri menjadi jembatan dialog bagi negara-negara yang bertikai.
Presiden Prabowo: “Siap Bertolak ke Teheran”
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam pernyataan resminya Sabtu (28/2/2026) menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah menyatakan kesiapan penuh untuk memfasilitasi dialog.
“Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” demikian bunyi pernyataan Kemlu RI.
Tawaran ini menjadi sorotan dunia. Keberanian diplomatik Indonesia tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan ditopang oleh hubungan historis yang sangat kuat dengan Iran sebuah fondasi yang jarang dimiliki negara mediator lainnya.
Bukan Sekadar Diplomasi Modern: Akar Sejarah Abad ke-7
Jika dilihat dari sejarah, tawaran mediasi Indonesia memiliki legitimasi kuat. Hubungan diplomatik formal Indonesia-Iran memang dimulai tahun 1950, menjadikannya salah satu mitra bilateral terlama. Namun, hubungan antara Nusantara dan Persia (Iran) telah terjalin sejak abad ke-7 Masehi, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Akar Sejarah yang Tak Terputus, Abad ke-7 M: Para saudagar Persia (dikenal sebagai Po-ssu) sudah singgah di bandar-bandar Selat Malaka, pantai barat Sumatera, dan Semenanjung Malaya, membangun relasi dagang dan persahabatan dengan Kerajaan Sriwijaya.
Pengaruh Budaya: Intensitas hubungan ini meninggalkan jejak abadi di Nusantara, seperti Kitab Menak (Jawa) dan Hikayat Amir Hamzah (Melayu) yang terinspirasi dari prosa Persia.
Warisan Seni: Cerita Persia masih hidup dalam pertunjukan wayang golek, wayang kulit, serta seni Tabot di Bengkulu—bukti nyata akulturasi yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Secara diplomatik, Indonesia dan Iran telah membangun hubungan yang matang dan multidimensi. Arsip Kemlu RI mencatat, hubungan tingkat tinggi (high-level engagement) kedua negara berjalan intensif dengan saling kunjung kepala negara sejak 2006.
Cakupan kerja sama bilateral meliputi, Ekonomi & Perdagangan, Pertahanan & Keamanan, Kesehatan & Riset Teknologi serta Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak.
Kedua negara juga aktif berkolaborasi di forum internasional seperti PBB, OKI, D-8, hingga BRICS. Saat ini, tercatat 329 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Iran, menjadi pertimbangan penting dalam upaya perlindungan warga negara di tengah konflik.
Langkah mediasi Presiden Prabowo juga selaras dengan penguatan hubungan pertahanan yang sedang berlangsung. Rabu (9/4/2025), Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Iran untuk Indonesia, H.E. Mr. Mohammad Boroujerdi, di Markas Besar TNI AL, Cilangkap.
Pertemuan yang dihadiri jajaran pimpinan TNI AL dan delegasi Kedutaan Besar Iran tersebut membahas penguatan kerja sama angkatan laut kedua negara.
Kasal Muhammad Ali menegaskan komitmen TNI AL untuk terus membangun hubungan baik dengan negara-negara sahabat demi mewujudkan keamanan dan stabilitas maritim yang berkelanjutan. Di tengah blokade dan ketegangan di Selat Hormuz, penguatan kerja sama ini menjadi sinyal penting bagi upaya menjaga jalur perdagangan laut global.
Dengan membawa modal sejarah panjang, hubungan bilateral solid, dan posisi geopolitik yang relatif independen, Indonesia kini berada di persimpangan penting. Tawaran Presiden Prabowo untuk menjadi mediator menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pemain kunci dalam upaya mencegah perang terbuka di Timur Tengah.
Dunia kini menunggu respons dari Washington dan Teheran. Akankah Indonesia berhasil membawa kedua kubu ke meja dialog? Satu hal yang pasti, diplomasi Indonesia sedang diuji di panggung global paling panas saat ini.
(Grd)













