INDIA – Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam panggung internasional.
TNI AL menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas keamanan di Samudera Hindia dengan menjadi bagian penting dalam forum bergengsi Goa Maritime Conclave (GMC) ke-5.
Acara yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India (Indian Navy) di Naval War College (NWC), Goa, pada Minggu (22/02/2026) ini menjadi wadah diskusi strategis bagi para pemimpin maritim dunia. TNI AL mengirimkan perwakilannya, Kolonel Laut (P) Aminuddin Albek, untuk menyuarakan pentingnya kolaborasi di kawasan.
Forum yang dibuka secara resmi pada 21 Februari 2026 ini mengusung tema yang relevan dengan tantangan kekinian, yaitu “Common Maritime Challenges in the IOR: Progressing Lines of Effort to Mitigate Dynamic Threats” (Tantangan Maritim Bersama di Kawasan Samudera Hindia: Memajukan Upaya untuk Mengatasi Ancaman Dinamis).
Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Staf Angkatan Laut India, Laksamana Dinesh K. Tripathi, serta para pemimpin senior Angkatan Laut dari 14 negara mitra di kawasan Indian Ocean Region (IOR).
Dalam paparannya, perwira yang pernah menjabat sebagai Komandan KRI Yos Sudarso, kapal legendaris Indonesia, itu menyoroti sejumlah ancaman nyata yang masih membayangi Samudera Hindia:
Penangkapan Ikan Ilegal (Illegal Fishing): Praktik ini dinilai tidak hanya merusak ekosistem laut, tetapi juga merugikan ekonomi negara-negara di kawasan.
Penyelundupan Narkoba Jalur Laut: JALur sutra maritim baru juga rawan disalahgunakan sebagai jalur peredaran gelap narkoba internasional.
Diplomasi Angkatan Laut: Kunci Keamanan Samudera Hindia
Kolonel Laut (P) Aminuddin Albek, yang juga merupakan mantan Atase Pertahanan KBRI Roma, menekankan bahwa Samudera Hindia adalah jalur vital bagi perdagangan global dan keamanan energi dunia. Oleh karena itu, menjaga keamanan ruang maritim bersama adalah tanggung jawab kolektif.
“Kunci dari kerjasama keamanan maritim yang berkelanjutan adalah komunikasi yang terbuka, pertukaran informasi secara real-time, serta inisiatif penguatan kapasitas bersama (joint capacity-building),” tegas Kolonel Aminuddin yang memiliki latar belakang pendidikan luas, termasuk DSDS dan CRMP.
Keikutsertaan TNI AL dalam GMC 2026 ini merupakan implementasi nyata dari peran diplomasi angkatan laut (naval diplomacy).
Langkah ini sejalan dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, untuk mempererat hubungan bilateral dan multilateral guna memastikan perairan kawasan tetap aman, stabil, dan sejahtera.
Dengan hadirnya TNI AL di forum ini, Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan maritim yang disegani dan mitra strategis yang dapat diandalkan dalam menjaga perdamaian dunia.
(Gas/pen)














