Negeri Rudra nan Bertabur Permata

Mencerdaskan & Memuliakan - November 3, 2020
Negeri Rudra nan Bertabur Permata
 - (Ilustrasi- Mencerdaskan & Memuliakan)

Oleh: Reno Muhammad

GURINDAM.ID – SEJAK Prof. Arysio Nunes dos Santos menerbitkan buku penelitiannya yang berjudul Atlantis, The Lost Continent Finally Found (Benua Atlantis yang Hilang Akhirnya Ditemukan) pada 2005, dunia ilmiah modern pun geger.

Betapa tidak. Topik ini telah lama menghantui masyarakat di Barat, tentang siapa leluhur manusia, dan dari mana mereka berasal.

Paling tidak, setelah karya itu muncul, ada delapan penelitian sejenis yang semua mengarah ke satu nama: Indonesia.

Lucunya, riset para ahli dengan beragam temuan mereka itu, tak beroleh sambutan hangat di sini.

Malah sebagian besar tanggapan, bernada sumir. Bahkan terkesan melecehkan akal sehat mereka sendiri. Padahal seluruh karya itu dihasilkan dengan penelitian ketat dan bertanggungjawab.

Bangsa kita ini memang punya masalah serius dengan kesejatian dirinya. Terlampau lama memercayai takhayul pengetahuan modern yang ditanamkan penjajah selama beratus tahun.

Sekadar contoh, masih banyak dari kita yang percaya bahwa leluhur bangsa bahari ini adalah golongan manusia rendahan, hina, menyembah setan, makan kemenyan, dan liar.

Padahal sudah tak kurang bukti terkuak, untuk membantah itu. Sebuah monumen megafraktal yang kini dikenal sebagai Borobudur (Vhwana Sakha Pala) telah megah berdiri di sini pada abad ke-5 SM.

Sementara saat yang sama, orang di Barat sana masih sibuk bertengkar soal keyakinan mereka tentang tuhan, dan hidup barbarian.

Monumen futuristik itu mengundang decak kagum orang modern, dan hingga kini, rahasianya belum terpecahkan secara utuh. Baiklah, mari kita beranjak ke perkara inti tulisan kami.

Kisah Atlantis yang dituangkan dalam dialog Timaeus dan Critias oleh Plato, filsuf dan ilmuwan besar yang hidup pada masa 424-347 SM, adalah rujukan satu-satunya yang selama ini menjadi bekal para peneliti.

Pertanyaan kita, kenapa orang Indonesia tidak merasa tergugah dengan Atlantis yang ditahbis berada di negeri maritim ini? Ya karena nama tersebut bukan asli dari negeri kita.

Serupa dengan Indonesia yang namanya diambil dari hasil penelitian etnolog asal Skotlandia, James Richardson Logan (1819-1869) pada 1850, dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia.

Secara harfiah, kata Atlantis bersumber dari Bangsa Atlan. Salah satu suku bangsa titan atawa denawa atanapi raksasa. Sama belaka dengan kaum ‘Ad yang dikenal orang Arab.

Menurut Frank Joseph, penulis The Atlantis Encyclopedia, ada beberapa kemiripan antara ‘Ad dengan Atlantean. Keduanya bertubuh raksasa.

Kaum ‘Ad (Aden) merupakan penghuni tertua di jazirah Arabia. Mereka sering digambarkan berambut merah, dan ini mirip dengan gambaran mitologi Atlantis di beberapa tempat seperti Mesir, Irlandia, dan sebagainya.

Baca Juga  Ujian Demokrasi itu bernama Trump!

Sejarah dunia banyak sekali yang berasal dari mitologi Yunani, lantas semua itu kita terima begitu saja. Kenapa kita harus mengamini “penelitian” dan cara pandang Barat yang jelas punya maksud terselubung? Tidakkah kita bisa melakukan penelitian dan menggunakan mitologi bangsa sendiri?

Deputi Bidang Keilmuan LIPI, Zainal Arifin meyakini bahwa mitos dan dongeng merupakan keingintahuan masyarakat pada masa lalu terhadap peristiwa alam.

Eko Yulianto, juga peneliti LIPI bidang paleo tsunami, bahkan telah memilin asal-usul penduduk Jawa dari Segoro Kidul (Laut Selatan), dengan metode penelitian geo-mitologi.

Ia mengamini bahwa mitos-mitos kerap menyimpan informasi penting mengenai suatu peristiwa pada masa silam, dan itu bukanlah klangenan belaka.

Sebagaimana Prof. Arysio, Stephen Oppenheimer dengan Eden in The East (1998), juga melakukan pendekatan serupa.

Mereka mengolah ribuan manuskrip kuno mitologi dunia tentang naga air, sabda, cahaya, pemisahan langit-bumi, penggunaan tubuh, angin pencipta, tujuh manusia bijak, dan telur kosmik.

Lantas kalau begitu, apa nama yang memang asli milik kita, jika bukan Atlantis?

Pada zaman Majapahit, kita sudah mengenal istilah Nusantara. Lalu mundur pada abad ke-8 M, wilayah petirtaan terluas di dunia ini disebut Dwipantara.

Ada juga yang menyematkan nama Lemuria untuk masa lebih jauh ke belakang—kisaran belasan ribu tahun silam.

Temuan Prof. Arysio tersebut mungkin akan terus mendekati kenyataan, seiring kian bermunculannya artefak dari periode arkaik negeri kita. Seperti busur panah, kujang, mahkota, gada, tongkat, yang semua berukuran luarbiasa besar.

Sekarang, mari kita telusuri mitologi negeri ini yang berkaitan dengan khazanah keraksasaan.

Dalam kitab sastra Itihasa (Kejadian yang Nyata), yang menceritakan kisah-kisah epos para raja dan kesatria pada masa lampau, ada tokoh bernama Kala Rudra.

Mungkin tak banyak orang yang mengenal tokoh sesembahan para raksasa ini. Masyarakat Bali juga mengenal rudra dengan pemahaman yang agak berbeda. Jadi siapakah rudra itu? Sang Hyang Rudra, Bathara Ludra, Hyang Lodra, adalah salah satu dewa dengan posisi yang tinggi.

Dewa Rudra di Pulau Dewata juga bisa dijumpai dalam kitab-kitab Weda dan Wisnu Purana. Dalam konsep empat buwana, ia menempati posisi barat daya. Sifat dasarnya yaitu menakutkan (gora), dan tenang (santa).

Wujudnya sebagai rudra yang menakutkan bersifat melebur. Karena itulah, namanya disebut demi menenangkan kemurkaan, dan mengubahnya menjadi rudra yang tenang. Rudra juga bisa diartikan naga besar di dasar samudra yang sangat gelap.

Dari petunjuk ini, kita bisa memahami mengapa posisi rudra dalam padma mandala (buwana), menempati posisi barat daya. Karena menunjuk ke samudera dari arah Uluwatu.

Baca Juga  Emak-Emak Gelisah Kenakalan Remaja, INSANI Kepri Siapkan Tempat Pengembangan Bakat

Dewa berasal dari bahasa Sansekerta “div” yang artinya sinar. Ia merupakan pengejawantahan sinar suci Hyang Widhi Wasa (Tuhan) yang memberikan kekuatan-Nya untuk kesempurnaan hidup mahluk.

Istilah div atau dev[w]a sebagai mahluk Tuhan adalah karena ia diciptakan sebagaimana dikemukakan dalam kitab Rig Veda (x. 129.6).

Dengan begitu, dewa diciptakan demi maksud-tujuan tertentu yang mempunyai sifat hidup dan mempunyai sifat kerja (karma).

Rudra di Bali, juga mendapatkan pemujaan istimewa. Terbukti dengan dilaksanakannya Karya Agung Eka Dasa Rudra setiap seabad sekali.

Upacara Bhuta Yadnya ini dilaksanakan di Pura Besakih. Terakhir kali diadakan pada tahun saka 1900.

Pemujaan pada rudra, sesungguhnya adalah kesadaran pemujanya kepada Tuhan, betapa Dia yang Maha Kuasa, dapat murka dan menggerakkan samudera. Menenggelamkan daratan serta menyapu bersih segala yang ada di atasnya.

Namun demikian, Tuhan yang Maha Kuasa juga pemilik ketenangan dengan memberikan kebahagiaan dan kesenangan kepada penyembah-Nya.

Selain Kala Rudra, ada pula Rudrapada. Rudra adalah nama dewa yang dipuja kaum denawa (raksasa), dan pada adalah buana/dunia. Maka itulah kita punya kosa kata madyapada atau mayapada. Jadi bisa kita artikan bahwa rudrapada adalah negeri rudra.

Para pelestari ajaran leluhur kita di Bali, percaya, bahwa rudra yang merupakan salah satu aspek dewa-dewa, juga unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra Prana.

Ada sebelas unsur Rudra yaitu Kapali, Pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava. Inilah yang menguasai semua arah penjuru angin, dan yang mengatur alam semesta (buwana agung dan buwana alit) dalam keharmonisan semesta.

Kapali menunjukkan tulang (dinyatakan dalam istilah feminin) atau cangkir/ mangkuk yang digunakan untuk menyimpan makanan.

Dengan kata lain bisa disebut sebagai kepala perempuan. Pingala merujuk pada api coklat kemerahan. Bima mewakili kekuatan hebat luar biasa. Ini adalah gaya Prana (gluon dalam istilah modern). Virupa-aksha adalah multi-lipat, multi-warna mata.

Vilohita menunjukkan kekuatan merah tua. Merah menerangkan jarak yang jauh. Ini adalah bidang kekuatan yang memiliki jangkauan panjang dengan intensitas rendah. Abhirbudnya menunjuk sesuatu yang di kedalaman atau jauh di dalam inti.

Shasta artinya menahan, mengendalikan, atau perintah. Bhava menerangkan soal kehadiran, keberadaan, atau kelahiran. Chanda itu memikat atau mengundang. Shambu bisa berarti mempertemukan, bertemu, atau bergabung.

Sang Hyang Rudra juga dianggap sebagai dewa kebajikan, karena kepada raksasa yang bertapa memujanya, ia tidak segan-segan memberi pelbagai ilmu kesaktian dan senjata pamungkas. Ia dipuja sebagai kekuatan yang memancarkan spiritual trimurti.

Baca Juga  “Mencerdaskan dan Memuliakan"

Bersinar seperti matahari. Sampai di sini kita bisa mendefinisikan rudra pada sebagai negeri rudra, dewa matahari, atau negeri matahari. Sejauh ini tidak ada keterangan apakah penduduk negeri matahari yang adalah leluhur kita itu, menyembah matahari.

Bisa jadi penamaan tersebut hanya menunjukkan penamaan yang menunjukkan wilayah tropis. Menjadi wajar bila kemudian muncul nama rudra, ludra, arudra, arda, lodra, lora, brodella, samudra, galudra, galodra, wiraludra dan yang lainnya. Silakan Anda tambahkan sendiri.

Rudra Pada hancur lebur oleh bencana banjir katastropik pada Zaman Dryas Muda. Sekira 11.500 tahun lampau.

Hal ini sudah dicatat dengan baik oleh Ignatius L. Donelly dalam buku Atlantis: The Antediluvian World (1882). Para raksasa itu, gemar membuat bangunan-bangunan tinggi dan suka memuja benda-benda langit seperti matahari, bintang dan planet.

Sekadar mengingatkan, memuja bukan berarti menyembah. Tak jauh beda dengan kita yang juga senang memuja-muji keindahan negeri ini.

Kejadian tersebut senada dengan tari pralaya Shiva yang melaksanakan fungsinya melebur alam fana bersama eka dasarudra, yang telah disebutkan di bagian atas. Mereka memorak-porandakan segala sesuatu di bumi.

Tarian mereka adalah maut yang menghancurkan. Kerlingan matanya membinasakan. Teriakan suka citanya jadi kematian bagi seluruh makhluk. Injakan kakinya yang melompat kegirangan, melumatkan.

Hembusan nafasnya meruwat semua jiwa. Mereka mendaurulang semesta material dan mengembalikannya ke asal muasal kejadian. Memurnikan bumi kembali.

Demikianlah landasan dasar ritual Eka Dasa Rudra di Bali. Bertujuan memohon keseimbangan jagad agar menjauhkan manusia dari bencana dan memberikan kesejahteraan.

Maka wajar bila keagungan ajaran Islam yang datang kemudian itu, mudah terserap oleh bangsa kita dengan puspawarna keragaman. Sebab kita mewarisi kebahagiaan paripurna yang spiritnya dijaga dalam laku lampah kehidupan.

Masih teramat banyak rahasia negeri ini yang belum kita singkap, terutama berkaitan dengan bagaimana leluhur kita menyusun prinsip hidup mereka, yang selaras dengan harmoni alam semesta. Gemah ripah loh jinawi. Di atas tanah air yang kaya-raya.

Akhir kalam, hipotesis ini perlu digali lebih dalam dan mungkin bisa dikaitkan dengan dua situs megalitikum yang disusun menggunakan batu-batu besar mencengangkan macam Gunung Padang di Cianjur, serta bangunan megah mirip benteng, sepanjang 110 km dengan ketinggian 1860 m²—yang berdiri tegak di kedalaman laut Papua.

Musykil kiranya jika graha mercusuar seperti itu digarap oleh bangsa  yang lemah dan tak berperadaban luhur.(**)

Rahayu mulyaning jagad.

Tinggalkan Komentar

Close Ads X