Mengejutkan DWF Indonesia Mencatat 31 Kapal Asing Curi Ikan di Laut Natuna Utara

Mencerdaskan & Memuliakan - Oktober 28, 2020
Mengejutkan DWF Indonesia Mencatat 31 Kapal Asing Curi Ikan di Laut Natuna Utara
Prajurit TNI AL awak KRI Yos Sudarso-353 mengiring para tahanan awak Kapal Ikan Asing (KIA) Vietnam yang berhasil diamankan di Pelabuhan Fasilitas Labuh (Faslabuh) TNI AL di Selat Lampa, Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu, 18 Juli 2020.lalu. - (Mencerdaskan & Memuliakan)

GURINDAM.ID – Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia mencatat, terdapat 31 kasus pencurian yang dilakukan kapal ikan asing sejak Juni-Oktober 2020 di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau.

Dari total kapal yang berhasil diamankan, 21 di antaranya merupakan kapal berbendera Vietnam.

Koordinator Nasional DFW Indonesia Moh Abdi Suhufan menuturkan, kapal Vietnam kerap melakukan perlawanan saat petugas melakukan pengamanan.

“Kami mencatat penangkapan yang dilakukan oleh aparat Indonesia sering kali mendapat perlawanan oleh kapal Vietnam dengan menabrakkan diri, ini berbahaya dan perlu antisipasi yang tinggi,” ujar Abdi dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2020).

DFW-Indonesia mengatakan, meningkatknya aksi pencurian oleh kapal Vietnam perlu mendapat perhatian oleh pemerintah Indonesia.

“Kami mencatat penangkapan yang dilakukan oleh aparat Indonesia sering kali mendapat perlawanan oleh kapal Vietnam dengan menabrakan bodi kapal, ini berbahaya dan perlu antisipasi yang tinggi,” kata Abdi.

Menurutnya, laut Natuna utara semakin rawan karena meningkatnya ekskalasi di Laut Cina Selatan akhir-akhir ini.

Pemerintah perlu merespon secara hati-hati dan tegas sebab selain pencurian ikan, juga terjadi pelanggaran kedaulatan dengan masuknya kapal China di wilayah laut Indonesia.

“Ada 2 hal yang terjadi di laut Natuna yaitu pencurian ikan oleh kapal Vietnam dan pelanggaran kedaulatan oleh kapal China,” kata Abdi.

Sementara itu, peneliti DFW-Indonesia, Muh Arifuddin mengatakan kerawanan pencurian ikan di Natuna perlu direspon dengan meningkatkan pengawasan.

“Kombinasi patroli laut dan udara perlu dilakukan oleh unsur pengawasan Indonesia,” kata Arif.

Dia juga menyarankan agar patroli dan latihan gabungan militer Indoensia perlu dijadwalkan secara rutin agar kehadiran unsur militer Indonesia bisa diperlihatkan.

“Indonesia tidak bisa pasif dan berdiam diri dengan maraknya pencurian ikan dan pelanggaran kedaulautan di Natuna,” kata Arif. (Ron)

Baca Juga  Ujian Demokrasi itu bernama Trump!

Tinggalkan Komentar

Close Ads X