PT.GURINDAM MEDIA KEPRI- Mencerdaskan & Memuliakan

Merangkum Sejarah Heroisme Petempuran Laut, Lanal Ranai Ikut Upacara Hari Dharma Samudra Di Posal Penagi

Mencerdaskan & Memuliakan - Januari 15, 2021
Merangkum Sejarah Heroisme Petempuran Laut, Lanal Ranai Ikut Upacara Hari Dharma Samudra Di Posal Penagi
 - (Komandan Pangkalan TNI AL (Danalanal) Ranai Kolonel Laut (P) Dofir bertindak selaku Inspektur Upacara bertempat di Dermaga Posal Penagi)
RajaBackLink.com

GURINDAM.ID- TNI Angkatan Laut (AL) melaksanakan upacara peringatan hari Dharma Samudera sebagaimana biasa dilakukan setiap 15 Januari.

Namun, pelaksanaan tahun ini dilakukan sederhana mengingat tengah terjadi sejumlah peristiwa bencana di negeri ini.

Komandan Pangkalan TNI AL (Danalanal) Ranai Kolonel Laut (P) Dofir bertindak selaku Inspektur Upacara bertempat di Dermaga Posal Penagi pada Jumat pagi (15/01/21).

Kolonel Dofir mengatakan, upacara peringatan hari Dharma Samudera dilakukan untuk mengenang dan memperingati para pahlawan bahari yang gugur dalam pertempuran-pertempuran di laut.

“Makna yang perlu diambil dalam peringatan Hari Dharma Samudera untuk generasi muda adalah mewarisi dan meneladani jiwa patriotisme para pahlawan kita di mana dengan penuh semangat hiroisme berjuang demi negara dan bangsa,” kata dia.

Beberapa pertempuran laut yang pernah terjadi pada masa lalu, yakni pertempuran Selat Bali, pertempuran Laut Sapudi, pertempuran Laut Cirebon, pertempuran Teluk Sibolga dan pertempuran Laut Aru.

Sejarah Pertempuran Laut

Terdapat beberapa peristiwa Pertempuran Laut yang penuh semangat heroik dan patriotik antara lain :

Peristiwa Pertempuran Laut di Selat Bali pada tanggal 4 April 1946 antara perahu rombongan ekspedisi Bali pimpinan Markadi dengan 2 buah LCM Belanda.

Peristiwa pertempuran laut di laut Cirebon pada tanggal 5 Januari 1947 antara kapal Gajah Mada dengan kapal Belanda H.R.M.S Cortenaer.

Peristiwa pertempuran laut didekat Pulau Panikian pada tanggal 17 Februari 1947 antara rombongan ekspedisi Sulawesi pimpinan Kapten Laut Hasan Ralla dan Letnan Satu A.A. Rifai dengan pihak Belanda.

Peristiwa pertempuran laut di perairan Pulau Sapudi pada tanggal 13 April 1947 antara rombongan ekspedisi Sulawesi pimpinan Kapten Laut Harianto dengan pihak Belanda.

Para pemuda pejuang kita telah mengadakan perlawanan terhadap kapal patroli Belanda yang bersenjata lengkap, mereka berjuang tanpa pamrih demi tegaknya kemerdekaan.

Namun sebagian dari pemuda itu akhirnya gugur sebagai patriot kusuma bangsa.

Jiwanya masih tetap hidup dan membangkitkan semangat juang bagi yg ditinggalkan, semangat juang sebagai bangsa yg memiliki harga diri.

Selanjutnya pada tanggal 28 April 1958 telah terjadi pertempuran antara R.I Hang Tuah dengan sebuah pesawat terbang musuh yg dikemudikan penerbang asing Allan Pope disekitar perairan Balik Papan.

Baca Juga  KPK Cegah Oknum Pegawai Ditjen Pajak ke Luar Negeri

Walaupun akhirnya kapal beserta delapan belas awak kapal tenggelam, namun mereka telah mengadakan perlawanan yg tidak kenal menyerah.

Pada tanggal 15 Januari 1962 tiga Kapal Cepat Torpedo R.I Macan Tutul, Macan Kumbang dan Harimau yg telah melaksanakan operasi infiltrasi dalam rangka perjuanganmengembalikan Irian Barat.

Ketika berada diposisi 04 derajat sampai 09 menit Lintang Selatan dan 135 derajat sampai 02 menit Bujur dengan haluan 239, telah dikelilingi dua pesawat terbang jenis Neptunedan Firefly milik Belanda.

Pada radar kapal didapat gema adanya dua buah kapal.bergerak menuju kearah iringan kapal kita kemudian dapat diketahui bahwa dua kapal tersebut adalah jenis Destroyer tiba-tiba kapal tersebut menembakan peluru suar ke arah kapal-kapal kita.

sesaat kemudian air bersemburan yg berarti musuh melepaskan tembakan peluru tajam disusul dijatuhkannya peluru suar oleh pesawat terbang sehingga keadaan menjadi terang benderang.

Dalam keadaan demikian Komodor Yos Soedarso yg pada waktu itu telah berda di R.I Macan Tutul mengambil alih pimpinan dan segera memerintahkan serangan tembakan balasan dan mengadakan manuvra perkawanan.

Dengan gerakan serangan sedemikian rupa sehingga tembakan musuh tersebut terpusat kepada R.I Macan Tutul, dengan demikian dua kapal yg lain dapat diselamatkan.

Manuvra ini berhasil tetapi juga mengakibatkan tenggelamnya R.I Macan Tutul.

Melalui radio telepon Komodor Yos Soedarso menyampaikan pesan tempurnya ” Kobarkan Semangat Pertempuran”. Gugurlah Komodor Yos Soedarso, Kapten Memet Sastrawirya, Kapten Wiratno beserta dua puluh lima awak kapal.

Sebuah pertempuran yg tidak saja penuh heroisme dan patut di contoh, tetapi juga mengandung “The Art a Battle” yang membanggakan sejarah rakyat dan bangsa Indonesia.

Kini bagi kita yg ditinggalkan tiada jalan lain kecuali menghayati akan peristiwa-peristiwa pertempuran laut itu demi memupukan rasa harga diri, tak kenal menyerah disertai sikap mental tanpa pamrih demi tegaknya kemerdekaan dengan rasa bangga.

Marilah kita renungkan akan pengabdian itu untuk melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan.

Baca Juga  Sumbangan 40 Ribu Masker Yayasan HOPE Indonesia Untuk PKK Kepri

Pada upacara tersebut Komandan Lanal Ranai Kolonel Laut (P) Dofir membacakan amanat Kepala Staf TNI Angkata Laut Laksamana TNI Yudo Nargono, sebagai bangsa maritim yg besar, para pejuang laut sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara selalu berjuang dengan tegar menghadapi bangsa penjajah yang ingin menjarah bumi pertiwi.

Darah, Keringat dan Air Mata para pahlawan pejuang laut menetes di laut nusantara demi kemerdekaan yang kita nikmati bersama saat ini.

Armada adipati unus dan fatahillah dari kesultanan demak harus menghadapi kekuatan portugis.

Demikian juga laksamana malahayati dengan semangatnya memimpin perlawanan terhadap armada portugis dan belanda di malaka.

Perjuangan laut ini terus di ikuti para kesatria samudera lainnya dari berbagai daerah di Nusantara, Kerajaan kesultanan Mataram,Kelustanan Gowa, Hingga kesultanan Tidore.

Mendidihnya gelora darah pejuang laut nusantara ini, tetap mengalir di tubuh prajurit angkatan laut republik indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Berbagai Pertempuran dan Medan laga di Laut telah banyak di lalui oleh JALASENA KUSUMA BANGSA.

Masa-masa kejayaan corps armada sampai kepada masa dwikora dan trikora,hingga puncaknya adalah lima puluh sembilan tahun silam,tepatnya 15 januari 1962.

Laut arafuru telah menjadi saksi bisu pengorbanan perjuangan para pahlawan laut indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, yang di tandai dengan seruan penuh semangat dan gagah berani oleh komodor Yos Sudarso yaitu

“KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN!!!”

Yang mengiringi perlawanan R.I Matjan Tutul menghadang armada Belanda.

Semangat bertempur dan pantang menyerah prajurit R.I Matja Tutul tersebut seolah tak pudar di hati para prajurit laut.

Untuk itu,sudah sewajarnya dan sudah seharusnya kita menghargai dan menjunjung tinggi semangat kepahlawanan para kesatria samudera pembela negara.

Peringatan hari Dharma Samudera kali ini pada hakekatnya merupakan refleksi penghargaan yang tinggi kepada seluruh pahlawan samudera nusantara yang telah mengorbankan jiwa dan raga guna merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara kesatuan republik indonesia.

Perlu diketahui bersama,

bahwa peringatan hari DHARMA SAMUDERA kali ini sedianya akan dilaksanakan secara terpusat di kepulauan Natuna.

Baca Juga  Presiden Akan Tinjau Sejumlah Fasilitas dan Infrastruktur untuk G20 di Bali

Namun dengan adanya musibah jatuhnya pesawat sriwijaya air sj-182 di perairan kepulauan seribu, maka saya memutuskan untuk merubah pelaksanaan upacara secara sederhana di dermaga kolinlamil Jakarta.

Perubahan tersebut merupakan wujud empati kita bersama dalam rangka memfokuskan kekuatan alutsista dan personel TNI Angkatan Laut untuk mendukung operasi pencarian dan pengangkatan pesawat sriwijaya air sj-182.

TNI Angkatan Laut bersama-sama dengan instansi pemerintah lainnya secara cepat telah mengerahkan segala daya dan upaya berupa alutsista dan personel dalam pencarian korban, badan pesawat dan Black Box Sriwijaya Air.

Respon cepat satuan TNI Angkatan Laut yang tergelar di lapangan ini,merupakan wujud nyata kehadiran (sea presence)Tni Angkatan Laut yang selalu siap siaga dalam memenuhi panggilan tugas.

Hal ini juga membuktikan efektifitas kekuatan TNI Angkatan Laut sebagai sebuah kekuatan yang siap dioperasionalkan (operational ready force) yang bertumpu pada sistem senjata armada terpadu (ssat) yang terdiri dari kapal perang,pesawat udara.

korps marinir serta pangkalan telah terbukti,baik pada operasi militer untuk perang (omp) maupun pada situasi penanganan pandemi covid-19 dan sar seperti saat ini,yang termasuk dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

Para prajurit jalasena dimanapun kalian berada dan bertugas…tanamkan dalam benak kalian….

“Saat negara memanggil…kekuatan Angkatan Laut harus selalu berada di garis depan….

Saat negeri ini membutuhkan….tak ada lagi jawaban lainnya…serahkan jiwa raga kalian.

Momentum peringata hari dharma samudera kali ini kiranya mengingatkan kita bersama untuk bertekad mewujudkan nilai-nilai patriotisme, kepahlawanan dan kepemimpinan yang di wariskan oleh para pendahulu kita di dalam pengabdiannya kepada Tni Angkatan Laut,Tni,Bangsa dan Negara Tercinta.

Selaras dengan semangat

JALESVEVA JAYAMAHE” yang berarti “DI LAUT KITA JAYA” atau “DI LAUT KITA MENANG”,

saya harapkan peringatan hari dharma samudera tahun ini juga dapat menginspirasi bangsa indonesia untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan nusantara, dengan menyadari bahwa laut adalah faktor kunci tercapainya kejayaan bangsa menuju indonesia sebagai poros maritim dunia. (Rk/Pen)

Click Bener Subscribe youtube Gurindam.id

Tinggalkan Komentar

LIKE FANPAGE

Our Visitor

0 8 4 1 8 9
Users Today : 3
Users Yesterday : 33
Users Last 7 days : 255
Users Last 30 days : 1571
Users This Month : 36
Users This Year : 16697
Total Users : 84189
Views Today : 13
Views Yesterday : 93
Views Last 7 days : 456
Views Last 30 days : 2562
Views This Month : 106
Views This Year : 24382
Total views : 138085
Who's Online : 1
Your IP Address : 44.192.65.228
Server Time : 2022-07-02
Baca Informasi Berita Aktual Dari Sumber terpercaya