MIDAI – Di antara riak ombak Laut Natuna Utara yang tenang, berdiri sebuah bangunan beton tua bercat kusam. Dindingnya mungkin mulai retak dimakan usia, namun ia berdiri tegar sebagai monumen bisu.
Inilah bekas Barak Marinir di Desa Air Putih, Kecamatan Midai sebuah fragmen sejarah era 90-an ketika Pulau Midai masih menjadi salah satu titik terdepan sekaligus terluar di wilayah administratif Riau, sebelum akhirnya mekar menjadi bagian Kecamatan Kabupaten Natuna dari Provinsi Kepulauan Riau.
Terukir dari dinding sebuah lukisan tua berusia sekitar 30 tahun masih bertahan: bola dunia, baret ungu kebanggaan, dan sosok prajurit gagah dengan seragam lengkap menenteng senjata.
Di atasnya, bertuliskan Korps Marinir dikenal dengan slogan abadi dalam bahasa Sanskerta, “Jalesu Bhumyamca Jayamahe” di laut dan darat kita jaya seolah menjadi mantra yang menolak lupa akan keperkasaan prajurit amfibi yang pernah berjaga di pulau seluas 2.850 hektar ini.

Kunjungan kerja Komandan Lanal Ranai, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, bersama Danposal Midai Kapten Laut (P) Agus Haryanto, Camat Midai Zulfani Afuan, dan Camat Suak Midai Zulkifli, ke lokasi bekas barak ini bukan sekadar napak tilas. Ini adalah upaya menghidupkan kembali memori panjang tentang kehadiran negara di pulau penghasil kopra dan cengkeh ini.
“Dulu, sekitar 5 hingga 10 prajurit Marinir ditempatkan di sini untuk menjaga perbatasan,” kenang Lurah Sabang Barat, Saparudin, menerawang masa ketika para prajurit dari Satgasmar Pam Puter bertugas mengamankan pulau-pulau strategis dari pelanggaran batas oleh negara asing.
Kini, tapak-tapak sepatu loreng itu telah lama pergi, menyisakan bangunan serta batang kelapa dulu ditaman oleh prajurit dan tanah seluas 50×50 meter yang sarat akan nilai perjuangan.
Namun, semangat “TNI AL yang Melindungi, Mengayomi, dan Bersinergi dengan Rakyat” seperti yang digariskan Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, justru semakin terasa di Midai.
Di bawah komando Kapten Agus Haryanto, Posal Midai tak hanya menjaga laut, tetapi juga merawat denyut nadi masyarakat mulai dari membersihkan saluran air pasca-cuaca ekstrem bersama warga Sabang Barat, hingga menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan yang menyalakan mimpi anak-anak muda Midai untuk menjadi prajurit.

Kolaborasi solid antara TNI, Polri, dan warga inilah yang ditekankan Kolonel Ady Dharmawan sebagai kunci stabilitas dan percepatan pembangunan di perbatasan.
Hal itu diamini penuh oleh para Camat setempat. Sinergi ini adalah energi sosial yang tak ternilai, sebuah benteng pertahanan modern yang fondasinya dibangun dari senyum dan gotong royong.
Dari Jejak Koperasi hingga Syahdunya Tanjung Harapan
Pulau Midai memang bukan sekadar tentang barak tua. Menyusuri jalanannya, kita akan menemukan bahwa denyut kemaritiman dan semangat juang ekonomi telah mengakar sejak lama.
Di pulau inilah berdiri Koperasi Ahmadi & Co yang didirikan pada tahun 1906 sebuah serikat dagang pribumi yang konon menginspirasi Mohammad Hatta dalam merumuskan konsep ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Bagi Fahrullazi (Bang Yoi), warga setempat, keberadaan situs-situs bersejarah ini adalah kebanggaan yang ingin dibagikan.
“Kami sangat senang dengan kehadiran masyarakat yang ingin melihat lebih dekat pulau kami,” ujarnya ramah.
Kejayaan masa lalu itu masih bisa dihirup dari hasil bumi Midai yang tetap menjadi primadona: kopra, cengkeh, dan karet yang dikirim ke pulau Jawa hingga ke Malaysia dan Singapura.
Setelah lelah menyusuri sejarah, Pantai Tanjung Harapan menanti dengan pesonanya yang nyaris perawan. Pasir putih bersih dan air laut jernih bak kaca raksasa yang memantulkan langit.
Bukan Tanjung Harapan di Afrika, ini adalah surga tersembunyi di Natuna yang menawarkan ketenangan sejati, tempat ideal untuk melepas penat setelah perjalanan laut selama 4-5 jam dari Ranai.

Akses dan Petualangan Menuju Midai
Bagi jiwa-jiwa petualang yang penasaran dengan eksotisme pulau di jalur pelayaran internasional ini, akses kini semakin mudah. Kapal Pelni KM. Bukit Raya secara rutin menyinggahi Pelabuhan Selat Lampa dalam rute mingguannya.
Anda bisa menikmati sensasi berlayar di antara pulau-pulau cantik Kepulauan Riau, merasakan semilir angin laut yang sama yang dulu dihirup para prajurit Marinir saat menjaga kedaulatan negeri.
Di pulau ini juga terkenal dengan kwalitas buah cengkeh yang terbaik disini juga ada penginapan sederhana namun populer seperti Penginapan Mak Negah siap menjadi persinggahan yang hangat, tidak jauh dari pusat denyut Pasar Midai.
Pulau Midai adalah bukti bahwa di balik keterpencilan geografis, tersimpan kekayaan sejarah dan keindahan yang luar biasa.
Dari kokohnya barak tua hingga Masjid Azzuriat Suak Midai yang telah berdiri sejak 1812, Midai mengajarkan bahwa menjaga perbatasan bukan hanya tentang senjata dan patroli, melainkan tentang merawat ingatan, membangun mimpi, dan bergandengan tangan di garda terdepan Ibu Pertiwi.
Kunjungan yang juga dihadiri Danramil dan Kapolsek Midai ini menjadi potret indah sinergitas TNI-Polri dan pemerintah daerah di wilayah perbatasan.
Kolonel Ady Dharmawan dalam sambutannya berulang kali menekankan bahwa “Keamanan dan kesejahteraan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” lugas Perwira melati tiga pernah menjabat Koorsmin Koarmada RI.
Mari berkunjung, telusuri jejak “Jalesu Bhumyamca Jayamahe”, dan rasakan sendiri bahwa Indonesia tak hanya luas, tetapi juga sangat dalam maknanya.
(Rik)













