Selamat dari Jeratan Sindikat TNI AL Gagalkan Penyelundupan PMI Ilegal, 6 Orang Diamankan di Perairan Asahan

Satuan Tugas (Satgas) Trisula 26 H Pusat Intelijen Angkatan Laut (Pusintelal)
Satuan Tugas (Satgas) Trisula 26 H Pusat Intelijen Angkatan Laut (Pusintelal)

SILAU LAUT, ASAHAN – Operasi senyap gabungan TNI Angkatan Laut dan Imigrasi berhasil membongkar jalur tikus penyelundupan manusia di Selat Malaka.

Sebuah kapal nelayan tanpa identitas mencurigakan yang bergerak dari Malaysia berhasil diadang dalam pengejaran dramatis di Perairan Silau Laut, Kabupaten Asahan, Jumat (3/4/2026) pagi.

Aksi ini mengungkap praktik pemberangkatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) non prosedural yang dikemas rapi namun gagal lolos dari radar intelijen maritim.

Kesuksesan operasi ini tidak terjadi secara instan. Cerita bermula pada Kamis malam (2/4/2026), ketika Satuan Tugas (Satgas) Trisula 26 H Pusat Intelijen Angkatan Laut (Pusintelal) menerima sinyal intelijen vital.

Informasi tersebut menyebutkan adanya pergerakan kapal misterius dari perairan Malaysia menuju Indonesia yang diduga sarat membawa PMI ilegal.

Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Tanjung Balai Asahan, Letkol Laut (P) Agung Dwi HD, segera menggerakkan tim. Tanpa membuang waktu, Tim Gabungan yang terdiri dari Satgas Trisula 26 H Pusintelal, Satgas Ops Intelmar Mantra Sakti–26 Koarmada I, Tim FQRT Lanal TBA, serta Tim Imigrasi Kelas II TPI Tanjung Balai Asahan menggelar briefing dan membagi sektor pengejaran di sekitar Muara Bagan Asahan hingga Silau Laut.

Sekitar pukul 10.05 WIB, radar dan mata awak tim gabungan di lapangan mendeteksi titik terang mencurigakan. Sebuah kapal pukat tarik berukuran 10 GT terlihat melaju dari arah Buoy MPMT menuju Muara Silau Laut.

Keanehan langsung terlihat: kapal tersebut tidak membawa alat tangkap dan bahkan tidak memiliki nama alias “kapal hantu”. Insting petugas langsung berbicara, ini bukan kapal ikan biasa.

Unsur Patkamla RHIB Lanal TBA segera melesat melakukan pengejaran. Kapal curian yang mencoba melarikan diri akhirnya berhasil dihentikan setelah manuver cepat di tengah laut.

BACA JUGA :  Lindungi Ancaman Pesawat Udara, KRI Bentuk Formasi Tabir Di Perbatasan Laut Natuna Utara

Hasil Pemeriksaan: Enam Orang Terbungkus dalam Perjalanan Berisiko

Saat kapal digeledah, terungkap fakta mengejutkan. Kapal yang dinakhodai oleh Syahrial (alias Heri) bersama dua anak buah kapal (ABK) ini diketahui mengangkut enam Pekerja Migran Indonesia (PMI) non prosedural.

Keenam korban (2 laki-laki dan 4 perempuan) berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka diiming-imingi pekerjaan di Malaysia tanpa melalui dokumen resmi. Beruntung, dari hasil pemeriksaan barang bawaan, tidak ditemukan barang terlarang atau narkoba.

Kapal hantu 10 GT tersebut beserta nahkoda, dua ABK, dan keenam PMI ilegal langsung digiring menuju Dermaga Phanton Bagan Asahan untuk pemeriksaan lanjutan.

Dalam upaya penegakan hukum yang humanis namun tegas, Lanal Tanjung Balai Asahan secara resmi menyerahkan seluruh pihak kepada Imigrasi Kelas II TPI Tanjung Balai Asahan. Mereka akan menjalani proses hukum sesuai undang-undang keimigrasian dan ketenagakerjaan.

Operasi ini merupakan bentuk nyata sinergi antarinstansi dan implementasi langsung dari arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Kebijakan Kasal menekankan peningkatan kewaspadaan serta penegakan hukum di laut secara profesional dan humanis.

Dengan adanya pengungkapan ini, TNI AL mengimbau masyarakat untuk tidak tergiur tawaran bekerja ke luar negeri melalui jalur non prosedural yang rawan perdagangan orang dan keselamatan jiwa.

(Grd/pen)

 

Editor: Riky Rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *