GURINDAM.ID – Sebuah ketegangan senyap menyelimuti perairan Teluk. Dua kapal kebanggaan PT Pertamina International Shipping (PIS), PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih menanti detik-detik hijau untuk menembus Selat Hormuz.
Di tengah hiruk-pikuk konflik kawasan yang memanas, para awak kapal bertahan, dan diplomat Indonesia bekerja tanpa kenal lelah di belakang meja perundingan.
Setelah negosiasi intensif yang dilakukan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) dengan pemerintah Iran, secercah harapan mulai terlihat. Pemerintah Iran merespons positif komunikasi yang dilakukan oleh Kemlu RI dan KBRI Tehran. Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa otoritas Iran kini memberikan lampu hijau untuk persiapan teknis dan operasional kedua kapal.
“Kemlu RI bersama KBRI Tehran terus berkoordinasi intensif sejak awal. Jika situasi tetap kondusif, kedua kapal akan segera diberangkatkan,” ujar Yvonne dalam keterangan resminya.
Keputusan ini sejalan dengan nota persyaratan yang sebelumnya disampaikan Kemlu Iran kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO), yang menyatakan bahwa kapal non-hostile (tidak bermusuhan) yang mematuhi aturan keselamatan diizinkan melintas.
Situasi Darurat: Lalu Lintas Minyak Dunia Lumpuh
Namun, jalan menuju izin lintas bukanlah perkara mudah. Data intelijen maritim Kpler menunjukkan betapa dramatisnya situasi di jalur vital dunia tersebut. Sebelum konflik pecah, sekitar 138 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Kini, rata-rata hanya tersisa lima hingga enam kapal per hari.
Mayoritas kapal yang berani melintas hanya berasal dari negara-negara yang berafiliasi dengan Iran, China, atau India. Mereka terpaksa mengambil rute lebih utara, mendekati perairan teritorial Iran, demi keamanan. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada ruang bagi kapal Amerika Serikat, Israel, atau sekutunya.
Diplomasi Belum Usai: Bola Panas di Tangan Diplomat
Hingga Kamis (26/3/2026), berdasarkan pantauan MarineTraffic, kedua kapal andalan Indonesia masih tertahan.
Pertamina Pride terpantau lego jangkar di utara Kota Dammam, Arab Saudi, Gamsunoro berada di perbatasan pesisir Kuwait dan Irak.
Meski posisi terhenti, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan kondisi kru, kapal, dan muatan dalam keadaan aman. Pertamina Pride diketahui membawa kargo vital untuk kebutuhan energi nasional, sementara Gamsunoro melayani pihak ketiga.
Pjs Sekretaris Korporat PIS, Vega Pita, menegaskan bahwa situasi ini tidak mengganggu pasokan energi dalam negeri, mengingat Pertamina Group mengoperasikan 345 kapal lainnya.
Saat ini, bola panas berada di tangan para diplomat. Kemlu RI terus mengintensifkan komunikasi dengan otoritas di Teheran. Targetnya jelas: memasukkan kedua kapal tanker berbendera Indonesia ke dalam daftar ‘negara sahabat’ agar segera diizinkan melintasi Selat Hormuz dengan selamat.
Keselamatan 345 kapal yang beroperasi bergantung pada satu izin yang ditunggu-tunggu. Indonesia berharap, diplomasi yang berjalan bisa segera membawa pulang kapal-kapal ini tanpa insiden.
Antara/andolu













