30 WNI Tertahan di Abu Dhabi Akhirnya Pulang, KBRI Siagakan Penerbangan Repatriasi

Antrian penumpang pesawat Etihad yang akan terbang ke Singapura di tengah pengetatan aktivitas ruang udara akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, Kamis (5/3/2026). (ANTARA/Hanni Sofia)
Antrian penumpang pesawat Etihad yang akan terbang ke Singapura di tengah pengetatan aktivitas ruang udara akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, Kamis (5/3/2026). (ANTARA/Hanni Sofia)

MEDAN – Sebanyak 30 warga negara Indonesia (WNI) yang sempat tertahan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), akibat penutupan wilayah udara Timur Tengah sejak akhir Februari 2026, akhirnya berhasil dipulangkan ke Tanah Air.

Proses repatriasi ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi bersama Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Dubai melalui penerbangan khusus yang aman dan tertib.

Para WNI diterbangkan menggunakan pesawat Etihad Airways menuju Singapura, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Indonesia melalui rute lanjutan.

Pemulangan ini dimungkinkan setelah otoritas penerbangan di UEA membuka koridor terbatas untuk penerbangan repatriasi di tengah situasi geopolitik kawasan yang masih dinamis.

Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, menegaskan bahwa keberhasilan pemulangan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara perwakilan RI dengan maskapai dan otoritas terkait di UEA.

“Sejak awal penutupan ruang udara pada 28 Februari, KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai terus berkoordinasi dengan maskapai dan otoritas setempat agar WNI yang terdampak dapat segera memperoleh akses penerbangan untuk melanjutkan perjalanan ke Tanah Air,” ujar Judha melalui keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).

Ia menambahkan bahwa keselamatan dan perlindungan WNI tetap menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi kawasan yang masih berkembang.

“Kami memastikan seluruh WNI yang terdampak mendapatkan pendampingan dan fasilitasi yang diperlukan. Pemerintah hadir untuk memastikan mereka dapat kembali melanjutkan perjalanan dengan aman dan tertib,” tegasnya.

Kronologi dan Dampak Penutupan Wilayah Udara

Penutupan sementara sebagian wilayah udara di kawasan Timur Tengah dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik regional sejak akhir Februari lalu.

Akibatnya, operasional penerbangan internasional di sejumlah bandara utama seperti Abu Dhabi, Dubai, dan Doha lumpuh total. Ribuan penerbangan dibatalkan, membuat ratusan ribu penumpang dari berbagai negara terjebak di bandara maupun kota transit.

BACA JUGA :  Simulasi Final Menuju Puncak: Tactical Floor Game TNI AL Pastikan HUT ke 80 Berjalan Mulus dan Berwibawa

KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai dengan sigap melakukan pendataan terhadap puluhan WNI yang terdampak. Selain memastikan keselamatan mereka, perwakilan RI juga aktif berkomunikasi dengan maskapai untuk mengamankan kursi pada penerbangan repatriasi yang mulai dibuka secara terbatas.

Hingga saat ini, jalur penerbangan sipil komersial di UEA belum sepenuhnya beroperasi normal. Penerbangan repatriasi dan penerbangan khusus menjadi satu-satunya moda untuk memobilisasi sekitar 20.000 pengunjung yang sempat tertahan di UEA.

Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di UEA terus memantau perkembangan situasi keamanan kawasan. Selain memfasilitasi kepulangan 30 WNI tersebut, KBRI dan KJRI juga memastikan tidak ada warga negara Indonesia lainnya yang terlantar tanpa bantuan selama proses penanganan krisis penerbangan ini berlangsung.

Dengan adanya koordinasi yang baik antara pemerintah, maskapai, dan otoritas setempat, proses repatriasi dapat berjalan lancar. Para WNI yang tiba di Indonesia dalam kondisi sehat langsung dapat berkumpul kembali dengan keluarga setelah melalui masa transit yang panjang.

(Ant/inf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *