GURINDAM.ID – Di bawah kepemimpinan Presiden ke Delapan Prabowo Subianto, Indonesia tengah menyaksikan babak baru dalam sejarah pertahanan maritimnya.
Dari kursi Menteri Pertahanan (2019–2024) hingga kini sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo konsisten mewujudkan visi poros maritim yang tegas dan modern.
Pengamat pertahanan dan keamanan Iwan Septiawan S.S., M.Si (Han), kandidat doktor dari Universitas Gadjah Mada, menilai bahwa transformasi ini bukan sekadar pembelian alutsista, melainkan perubahan fundamental dalam postur pertahanan Indonesia.
“Indonesia harus segera membangun kekuatan maritim yang digabung dengan kekuatan darat dan udara, untuk menjamin kedaulatan dan kemakmuran rakyat,” tegas Prabowo Subianto saat masih menjabat Menteri Pertahanan sebuah pernyataan yang kini menjadi doktrin dalam kebijakan pertahanan nasional.

Fondasi Kuat dari Kementerian Pertahanan
Iwan Septiawan menjelaskan bahwa fondasi transformasi maritim Indonesia telah diletakkan sejak Prabowo memimpin Kementerian Pertahanan. Beberapa langkah strategis saat itu menjadi pondasi bagi apa yang sekarang disebut sebagai Perisai Trisula Nusantara:
Modernisasi 41 kapal TNI AL melalui program R41 untuk memastikan kesiapan tempur armada
Revitalisasi industri pertahanan dalam negeri, termasuk proyek-proyek strategis di PT PAL Indonesia
Serta Investasi besar-besaran di pertahanan udara dan laut sebagai bagian dari master plan Optimum Essential Forces (OEF)
“Langkah ini menjadi pondasi Perisai Trisula Nusantara, yang kini berkembang menjadi strategi modernisasi multi-domain,” ujar Iwan kepada Gurindam.id, Minggu (15/2/2026).
Sebagai Presiden, Prabowo mempercepat transformasi TNI AL dari postur green-water navy menuju kapabilitas blue-water secara selektif. Kebijakan ini mencakup berbagai aspek strategis:
1. Modernisasi Alutsista Skala Besar
Tahun 2025–2026 menjadi periode lonjakan modernisasi alutsista TNI AL di bawah komando Presiden Prabowo dan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali:
KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 – dua fregat kelas FREMM dari Italia yang memperkuat armada pengawal samudera
KRI Canopus-936 kapal survei hidro-oseanografi canggih buatan Jerman untuk pemetaan perairan strategis
KRI Belati-622 kapal cepat rudal hybrid biofuel pertama dengan rudal ATMACA, menandai era baru kapal perang ramah lingkungan, Kapal induk LHD bekas Giuseppe Garibaldi dari Italia, kapal sepanjang 180 meter berbobot 10.000 ton yang mampu membawa helikopter dan drone tempur, ditargetkan tiba sebelum HUT TNI 2026.
Menariknya, sejumlah nama tokoh besar diusulkan untuk mengganti nama Giuseppe Garibaldi setelah resmi menjadi kapal Indonesia, antara lain Gadjah Mada dan Jenderal Soedirman.
2. Teknologi Masa Depan
Transformasi ini tidak hanya mengandalkan platform konvensional, tetapi juga integrasi teknologi mutakhir, Drone kamikaze untuk operasi ofensif presisi, Kapal selam tanpa awak (UUV) untuk pengintaian dan peperangan anti-kapal selam, Radar early warning untuk deteksi dini ancaman udara dan permukaan serta kontrak kapal selam baru dengan Naval Group Prancis melalui PT PAL, dengan fokus utama transfer teknologi.
3. Penguatan Kedaulatan di Wilayah Rawan
Prabowo secara khusus menginstruksikan Operasi Keamanan Laut (Opskamla) TNI AL untuk memberantas penyelundupan sumber daya alam, termasuk kasus timah ilegal di Bangka Belitung. Penguatan patroli juga difokuskan di titik-titik strategis:
Perairan Laut Natuna Utara yang kaya cadangan migas, Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Selat Makassar sebagai jalur perdagangan internasional.

Diplomasi Maritim: Mitra Baru, Ketergantungan Berkurang
Diplomasi maritim menjadi pilar penting dalam strategi Prabowo. Alih-alih bergantung pada negara Barat, Indonesia aktif menjalin kerja sama dengan mitra strategis baru:
Turki: Kerja sama produksi kapal perang dan transfer teknologi, Italia: Pengadaan kapal induk dan fregat FREMM dengan skema pembiayaan fleksibel, Prancis: Kontrak kapal selam yang menekankan transfer teknologi untuk membangun kemandirian industri pertahanan nasional.
“Ini langkah cerdas untuk mengurangi ketergantungan pada satu blok negara tertentu, sekaligus membuka akses teknologi dari berbagai sumber,” kata Iwan.
Transformasi yang digagas Prabowo membawa dampak multidimensi bagi Indonesia, 1. Martabat Bangsa Kemampuan memproyeksikan kekuatan hingga ke laut lepas meningkatkan posisi tawar Indonesia di forum internasional
2. Keamanan Ekonomi – Pengawasan ketat di wilayah kaya SDA mencegah kerugian negara hingga triliunan rupiah akibat illegal fishing dan penyelundupan
3. Stabilitas Kawasan – Postur pertahanan yang kuat membuat Indonesia disegani di Indo-Pasifik, sekaligus menjadi penyeimbang di tengah rivalitas AS-China.
Meski kemajuan signifikan telah dicapai, beberapa tantangan tetap perlu diantisipasi, Pengoperasian teknologi canggih membutuhkan personel terlatih dalam jumlah memadai, Pemeliharaan alutsista: Anggaran perawatan harus sebanding dengan investasi pengadaan
Serta Koordinasi lintas sektor, Pengamanan laut membutuhkan sinergi TNI AL, Bakamla, KKP, dan instansi terkait.
Namun demikian, arah kebijakan yang jelas dan konsisten di bawah kepemimpinan Prabowo memberikan optimisme bahwa Indonesia mampu mewujudkan visi poros maritim dunia.
“Transformasi ini bukan sekadar penambahan alutsista, melainkan penegasan martabat bangsa. Indonesia kini lebih siap menghadapi ancaman hibrida, melindungi kekayaan laut, dan menjaga jalur perdagangan internasional. Dengan dukungan penuh dari Presiden Prabowo, TNI Angkatan Laut bergerak dari sekadar bertahan menjadi kekuatan maritim yang disegani di Indo-Pasifik,” pungkas Iwan Septiawan.

Tentang Penulis:
Iwan Septiawan, S.S., M.Si (Han) adalah pengamat pertahanan dan keamanan, kandidat doktor dari Universitas Gadjah Mada, Founder IDSF (Indonesia Defense & Security Forum) yang aktif mengamati kebijakan strategis pertahanan Indonesia.













