Kasal Buka Arah Baru Pertahanan: Modernisasi Berbasis ToT, Integritas, dan Kedaulatan Teknologi

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali secara resmi membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AL Tahun 2026
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali secara resmi membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AL Tahun 2026

JAKARTA – Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti Auditorium Denma Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu pagi. Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali secara resmi membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AL Tahun 2026, sebuah momentum strategis yang tidak hanya menjadi ajang evaluasi, tetapi juga pijakan kokoh untuk melompat lebih jauh.

‎Mengusung tema “TNI Angkatan Laut Siap Mewujudkan Indonesia Maju dan Berdaulat”, Rapim tahun ini menjadi titik temu visi para pemimpin tertinggi matra laut.

Diselenggarakan sebagai tindak lanjut Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah, Rapim Kemhan, TNI, hingga TNI-Polri, pertemuan ini merupakan bukti nyata bahwa TNI AL tidak berjalan sendiri melainkan bergerak seirama dalam barisan besar pembangunan nasional.

Angkatan Laut
Angkatan Laut

‎Dalam pidato pembukanya, Laksamana Muhammad Ali menegaskan dengan penuh keyakinan bahwa sinergitas dan kesamaan visi adalah fondasi mutlak. Ia mengingatkan bahwa arahan Presiden, Menteri Pertahanan, dan Panglima TNI bukan sekadar instruksi birokrasi, melainkan amanat rakyat yang harus diwujudkan dengan kerja nyata.

‎“Saya menaruh harapan besar kepada seluruh peserta Rapim untuk berkontribusi secara positif melalui diskusi yang tajam, serta melahirkan gagasan yang inovatif dan solutif, demi mewujudkan TNI AL yang modern, berdaya gentar kawasan, dan berproyeksi global,” ujar Kasal dengan penuh semangat.

‎Ucapan itu bukan sekadar retorika. Di hadapan para pejabat utama dan perwakilan satuan kerja, Kasal memberikan sinyal kuat bahwa TNI AL tengah bersiap untuk lompatan besar. Lompatan yang tidak hanya mengandalkan jumlah, tetapi kecanggihan dan kemandirian.

‎Salah satu titik krusial dalam arah kebijakan yang ditegaskan adalah bidang alutsista. Kasal menyampaikan bahwa modernisasi alat utama sistem pertahanan tetap menjadi prioritas.

Namun yang membedakan, kebijakan kini diarahkan secara cerdas dan berdaulat: kapal perang yang sudah mampu diproduksi di dalam negeri harus dibangun oleh industri nasional.

‎Untuk teknologi yang belum dikuasai, kerja sama luar negeri tetap dilakukan namun dengan syarat mutlak: Transfer of Technology dan Transfer of Knowledge. Ini bukan sekadar beli, melainkan belajar.

Kasal menegaskan bahwa target jangka panjangnya adalah seluruh kapal perang dapat dirancang dan dirakit oleh putra-putri terbaik bangsa di galangan dalam negeri.

‎Arahan ini menjadi jawaban atas pertanyaan panjang tentang kemandirian industri pertahanan. TNI AL tidak ingin selamanya menjadi pasar, tetapi ingin menjadi lokomotif kebangkitan teknologi maritim nasional.

‎Di tengah dinamika geopolitik dan ancaman transnasional, Kasal juga mengingatkan kembali mandat Presiden: penjagaan kedaulatan, keamanan, dan penegakan hukum di laut sepenuhnya berada di pundak TNI AL.

“Guna semakin mempertegas upaya pencegahan berbagai bentuk penyelundupan yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi negara,” tandasnya.

‎Namun pertahanan yang kuat tidak hanya diukur dari meriam dan radar. Integritas adalah senjata paling tajam. Dalam momen Rapim ini, Kasal menyematkan penghargaan bergengsi kepada sejumlah satuan kerja yang berhasil meraih predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) serta Penilaian Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pelayanan Publik (PEKPPP).

‎Penghargaan diterima antara lain oleh Kodaeral V, Pasmar 2, Pasmar 3, Disdikal, Rumkital Dr. Midiyato Suratani, Ladokgi Yos Sudarso, dan Ladokgi Raden Eddy Martadinata. Penghargaan ini bukan sekadar piala ini adalah bukti bahwa di tengah gelombang modernisasi, TNI AL tidak melupakan moralitas.

‎Rapim TNI AL 2026 bukanlah seremoni tahunan biasa. Di ruang tertutup itu, para perwira tinggi tidak hanya membahas strategi perang, tetapi masa depan Indonesia sebagai negara maritim. Dengan semangat Jalesveva Jayamahe Di Laut Kita Jaya TNI AL menegaskan posisinya sebagai garda terdepan kedaulatan, sekaligus mitra strategis pembangunan.

‎Indonesia maju tidak akan terwujud jika lautnya tidak aman. Indonesia berdaulat tidak akan berarti jika teknologinya masih tergantung. Dan di tangan para laksamana, kolonel, serta seluruh prajurit Jalasena, dua mimpi besar itu tengah dijemput, bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan gagasan, integritas, dan keberanian untuk berubah.

‎(grd/pen)

 

 

Editor: Riky rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *