Makassar – Suara sirene dan langkah cepat personel medis menggema di RSAL Jala Ammari Koarmada VI, Selasa (3/2) siang.
Sebuah aksi kemanusiaan bergulir cepat menyusul musibah yang menyentuh hati: kapal ikan Rismawati Indah terbakar hebat saat bongkar muat di Pelabuhan Paotere, jantung aktivitas nelayan tradisional Makassar.
Dalam tragedi yang merenggut rasa aman itu, TNI Angkatan Laut, dengan semangat komando Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, hadir sebagai penjaga harapan.
Sembilan saudara kita, para nelayan tulang punggung keluarga, menjadi korban. Mereka mengalami luka bakar dan cedera dengan beragam tingkat keparahan.
Namun, kepanikan itu segera direspons dengan ketenangan dan profesionalisme luar biasa. Tim gabungan TNI AL segera melakukan evakuasi darurat untuk membawa seluruh korban ke RSAL Jala Ammari, rumah sakit yang menjadi benteng kesehatan matra laut di wilayah Indonesia Timur.
Sesuai standar operasi prosedur yang ketat, setibanya di rumah sakit, semua korban langsung menjalani triase di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Proses ini menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatan, memastikan tidak ada satu nyawa pun yang terabaikan.
Kepala RSAL Jala Ammari Koarmada VI, Letkol Laut (K) dr. Suhadi, dengan mata lelah namun penuh keyakinan memaparkan, “Kami kerahkan semua yang terbaik. Untuk korban luka bakar, kami segera manfaatkan fasilitas Hyperbaric Chamber guna mempercepat penyembuhan jaringan.
Sementara, bagi yang mengalami patah tulang, tim bedah kami telah siaga untuk melakukan operasi sesuai indikasi medis.” Setiap langkahnya mencerminkan perintah dan harapan pimpinan untuk pelayanan terbaik.
Di gedung Mako Koarmada VI, perwakilan pimpinan hadir memberikan keterangan sekaligus ketenangan. Laksma TNI Arya Delano, mewakili Komandan Koarmada VI Laksda TNI Andi Abdul Aziz, menegaskan di hadapan awak media bahwa penanganan ini adalah bukti nyata komitmen TNI AL di bawah komando KASAL Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
“Dari detik pertama laporan diterima, kami bergerak. Kecepatan, ketepatan, dan intensitas perawatan adalah prioritas mutlak. Ini adalah wujud pengabdian kami kepada bangsa, khususnya kepada para nelayan, garda terdepan ekonomi maritim Indonesia,” tegas Wadan Koarmada VI dengan suara berwibawa.
“Kami pantau terus, kami rawat dengan maksimal. Doa kami menyertai agar mereka semua pulih dan dapat kembali berjuang di laut.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah gema dari semangat “Jalesveva Jayamahe” Di Laut Kita Jaya yang selalu digaungkan oleh KASAL Muhammad Ali, yang kini diterjemahkan menjadi aksi nyata penyelamatan jiwa.
Di akhir pernyataannya, Dankoarmada VI juga menyampaikan imbauan mendalam kepada seluruh masyarakat pelabuhan. “Kewaspadaan dan keselamatan kerja adalah harga mati. Periksa kondisi kapal, waspadai bahan yang mudah terbakar. Mari jaga bersama agar keluarga nelayan tetap utuh.”
Insiden di Paotere pagi itu meninggalkan duka, namun juga catatan heroik. Di bawah komando dan kebijakan KASAL Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, TNI AL sekali lagi membuktikan diri tidak hanya sebagai kekuatan pertahanan, tetapi lebih dari itu: sebagai kekuatan kemanusiaan yang selalu siap mengulurkan tangan, kapan pun dan di mana pun, khususnya untuk para pahlawan laut negeri ini.
Berita ini disiarkan oleh Dinas Penerangan Angkatan Laut sebagai bentuk akuntabilitas dan informasi kepada publik.













