GURINDAM.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin mengajukan proposal mengejutkan mengalokasikan aset Rusia yang dibekukan di Amerika Serikat (AS) untuk rekonstruksi Gaza melalui Board of Peace (Dewan Perdamaian), lembaga yang diusung Presiden AS Donald Trump. Langkah ini dinilai sebagai manuver politik untuk meraih simpati dan mengurai sanksi.
Dalam rapat Dewan Keamanan Rusia, Putin menyatakan kesediaan menyumbang $1 miliar dari aset yang dibekukan AS untuk Board of Peace. Syaratnya, sumbangan itu diberikan sebelum penyelesaian konflik Rusia-Ukraina, dengan alasan “hubungan khusus Rusia dengan rakyat Palestina”.
“Sisa dana dari aset kami yang dibekukan di AS juga dapat digunakan untuk membangun kembali wilayah yang rusak akibat pertempuran, setelah penandatanganan perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina,” tegas Putin, seperti dikutip dari bloombergtechnoz.
Namun, tawaran ini dinilai sebagai bagian dari strategi Rusia menghindari eskalasi sanksi. Nilai aset Rusia yang dibekukan di AS hanya sekitar $4-5 miliar, sangat kecil dibanding total aset beku global yang mencapai $300 miliar atau kebutuhan rekonstruksi Ukraina yang diproyeksikan $524 miliar.
Putin berencana membahas proposal ini lebih lanjut dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Moskow. Ia juga akan berdiskusi dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Board of Peace sebagai Solusi?
Board of Peace merupakan gagasan sentral dalam rencana damai 20 poin Trump untuk Gaza. Lembaga ini dirancang sebagai badan pengawas transisi yang mengelola administrasi, keamanan, dan rekonstruksi Gaza secara bertahap. Trump meminta kontribusi minimal $1 miliar dari tiap negara untuk keanggotaan permanen.
“Board of Peace adalah solusi dua negara yang realistis dan konkret,” kata Sugiono, Menlu RI yang diwawancarai awak media berapa waktu lalu. Menurutnya, dewan ini selaras dengan harapan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.
Keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace disebut sebagai wujud diplomasi strategis. “Partisipasi Indonesia merupakan langkah konstruktif dan konkret mendukung kemerdekaan Palestina,” jelas Sugiono. Keberadaan Indonesia di dalamnya menguatkan posisi dan pengakuan internasional terhadap peran Jakarta dalam perdamaian global.
Sugiono mengungkapkan, setelah Board of Peace berdiri, Jalur Rafah akan dibuka dalam waktu satu minggu untuk akses bantuan kemanusiaan. “Fokus utama adalah mencapai kemerdekaan dan perdamaian di Palestina,” pungkasnya.
Analisis: Manuver Politik di Tengah Kebuntuan
Iwan Septiawan Pendiri Indonesia Defense and Strategic Forum (IDSF) kepada Gurindam.id, Minggu (1/2/2026) mengatakan, Tawaran Putin muncul di tengah kebuntuan perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun kelima dan konflik Gaza yang belum terselesaikan.
“Proposal ini dilihat sebagai upaya menguji respons Trump sekaligus membagi perhatian dunia. Di sisi lain, Trump yang kerap berganti sikap terhadap Putin dan Zelensky, mungkin melihat kolaborasi ini sebagai pencapaian diplomatik menjelang pemilihan,” ujar Iwan Septiawan.
Namun, jalan masih panjang. Perselisihan mendasar dalam rencana damai Trump, termasuk soal wilayah Ukraina, belum terpecahkan. Sementara reaksi Ukraina dan sekutu AS terhadap ide penggunaan aset beku untuk Gaza kemungkinan akan sangat kritis.
(Grd/yor)













