JAKARTA – Dalam langkah strategis yang mempertegas implementasi politik luar negeri bebas aktif di era Presiden Prabowo Subianto, TNI Angkatan Laut (TNI AL) dan Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) resmi menandatangani perluasan kerja sama di bidang pendidikan dan pelatihan militer.
Kesepakatan penting ini dicapai dalam forum Staff Talks bilateral yang berlangsung di Wisma Elang Laut, Jakarta Pusat, pada 9-10 April 2026.
Poin paling signifikan dari perjanjian ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah, taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) akan dikirim untuk menempuh pendidikan di United States Coast Guard Academy di New London, Connecticut.
Delegasi TNI AL dipimpin langsung oleh Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops Kasal) Laksamana Muda TNI Yayan Sofiyan, sementara delegasi US Navy dipimpin oleh Rear Admiral Katie Sheldon, Vice Commander Armada ke-7 AS.
Membuka Babak Baru Diplomasi Pertahanan
Kerja sama ini bukan sekadar rutinitas bilateral. Selain membuka akses ke Akademi Coast Guard yang selama ini belum tersentuh, kedua pihak juga sepakat memperpanjang program pengiriman taruna ke United States Naval Academy (USNA) di Annapolis.
Program USNA sendiri telah lama menjadi wadah bagi perwira muda Indonesia untuk mengasah kapasitas akademik, kepemimpinan, dan teknologi kemaritiman bersama para kadet Amerika Serikat.
Jika Akademi US Navy fokus pada operasi tempur laut dan proyeksi kekuatan global, Akademi Coast Guard menawarkan keahlian spesifik yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan, seperti penegakan hukum di laut (maritime law enforcement), operasi pencarian dan penyelamatan (search and rescue), serta perlindungan lingkungan maritim .
Dalam rilis resmi yang diterima redaksi, ditegaskan bahwa kegiatan diplomasi militer ini selaras dengan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto. Langkah ini merupakan implementasi konkret dari visi politik luar negeri bebas aktif yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah situasi geopolitik global yang kian kompleks dan meningkatnya tensi di berbagai kawasan, Indonesia memilih jalur diplomasi pertahanan yang inklusif.
Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa keaktifan Indonesia menjalin komunikasi dengan berbagai negara, termasuk AS, adalah wujud nyata pengamanan kepentingan nasional tanpa berpihak pada blok kekuatan tertentu .
“Kerjasama bilateral kedua angkatan laut ini menambah rangkaian pencapaian tugas diplomasi angkatan laut guna mendukung diplomasi militer dan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat,” demikian pernyataan resmi yang dikutip dari forum staff talks tersebut .
Membangun Seaman Brotherhood dan Kapasitas Global
Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi tulang punggung pertahanan maritim modern.
Dengan bergabungnya taruna Indonesia di dua institusi elit AS, diharapkan terjadi transfer pengetahuan strategis, mulai dari teknologi navigasi canggih hingga doktrin interoperabilitas yang akan memperkuat kapasitas TNI AL dalam menghadapi dinamika ancaman maritim masa depan.
Kerja sama ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di bawah komando Laksamana TNI Muhammad Ali dan arahan Panglima TNI, TNI AL terus bergerak aktif di kancah global.
Hal ini sejalan dengan semangat pelayaran KRI Bima Suci yang baru saja dilepas untuk misi diplomasi ke berbagai negara sahabat, menunjukkan bahwa poros maritim Indonesia dibangun melalui persahabatan dan kapasitas profesional, bukan konfrontasi.
(Gas/pen)













