Pangan dan Energi: Dua Sisi Mata Uang Emas Pembanguan Bangsa

Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Ketua Umum DPP APPMBGI
Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Ketua Umum DPP APPMBGI

GURINDAM.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menegaskan dirinya bukan sekadar agenda bantuan sosial, melainkan investasi strategis jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia

. Di balik jutaan porsi makanan yang tersaji setiap hari untuk anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, ada satu fondasi besar yang sering luput dari perhatian public, yakni keberhasilan MBG sepenuhnya bertumpu pada kekuatan pangan dan ketahanan energi.

Keduanya tidak dapat dipisahkan. Pangan dan energi adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Ketika salah satu melemah, yang lain akan ikut terguncang. Karena itu, masa depan MBG – dan pada akhirnya masa depan Generasi Emas 2045 – ditentukan oleh kemampuan negara mengelola food-energy nexus secara cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Berkaca Dari Konteks Global

Konteks global hari ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem pangan bila tidak ditopang energi yang aman. Konflik geopolitik di Timur Tengah, ketegangan di Selat Hormuz, serta fluktuasi harga minyak dunia terus memberi tekanan pada biaya produksi dan distribusi. Indonesia, yang masih menjadi net importer minyak, merasakan dampaknya secara langsung melalui kenaikan biaya logistik, distribusi bahan baku, hingga operasional dapur.

Dalam skema MBG, efeknya sangat nyata. Ribuan dapur membutuhkan gas atau BBM untuk memasak, listrik untuk penyimpanan bahan, serta solar untuk kendaraan distribusi.

Di wilayah 3T dan daerah terpencil, sedikit saja kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya operasional secara signifikan dan pada akhirnya memengaruhi kualitas layanan.

Di titik inilah keterkaitan pangan dan energi menjadi semakin jelas. Produksi pangan nasional tidak hanya membutuhkan lahan dan petani, tetapi juga energi untuk traktor, pompa irigasi, pupuk, pengolahan hasil, cold chain, hingga transportasi antardaerah. Sebaliknya, energi yang tersedia tanpa jaminan pasokan pangan hanya akan menghasilkan dapur yang menyala, tetapi kosong dari bahan baku.

Pengalaman dunia sudah membuktikan hal ini. Krisis Rusia-Ukraina pada 2022 mendorong lonjakan harga pupuk dan gandum global, memicu tekanan pangan di banyak negara berkembang.

Pelajaran penting dari peristiwa tersebut adalah bahwa ketahanan pangan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan sistem energi dan logistik.

Mesin Ekonomi Baru 

Indonesia relatif mampu bertahan karena memiliki fondasi pangan domestik yang semakin kuat. Keberhasilan menjaga produksi beras nasional pada 2025 menjadi modal penting yang memungkinkan program MBG bergerak lebih stabil pada 2026.

Fondasi inilah yang membuat MBG bukan hanya program konsumsi, tetapi instrumen penguatan ekosistem pangan nasional dari hulu ke hilir.

BACA JUGA :  DPD APPMBGI Perkuat Kolaborasi dengan Pemkab Natuna Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Skala program ini juga menunjukkan signifikansi strategisnya. Hingga 9 Maret 2026, MBG telah menjangkau 61,62 juta penerima manfaat melalui lebih dari 25.082 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan realisasi anggaran sekitar Rp44 triliun dari total alokasi Rp335 triliun. Pemerintah menargetkan jumlah penerima meningkat menjadi 82,9 juta orang pada akhir 2026.

Angka ini menjadikan MBG bukan hanya program gizi, tetapi mesin ekonomi baru yang menggerakkan sektor pertanian, UMKM pangan, distribusi logistik, jasa katering, hingga teknologi penyimpanan makanan.

Efek bergandanya sangat luas, dimana permintaan bahan pangan lokal meningkat, pasar petani menjadi lebih pasti, dan perputaran ekonomi desa menjadi lebih hidup.

Di sinilah tata kelola memegang peranan sentral. Program sebesar ini tidak cukup hanya mengandalkan besarnya anggaran. Yang menentukan keberhasilan justru adalah kualitas eksekusi di lapangan, seperti standar higiene, traceability bahan baku, kepastian pasokan, efisiensi distribusi, dan integrasi teknologi logistik.

Karena itu, pendekatan pengelolaan MBG harus bergeser dari sekadar paradigma bantuan menuju paradigma national ecosystem building. Setiap dapur harus diposisikan sebagai simpul ekonomi lokal yang terhubung dengan petani, peternak, nelayan, UMKM, dan sistem energi setempat.

National Ecosystem Building

Salah satu arah penting yang perlu diperkuat adalah pemanfaatan energi terbarukan dalam operasional dapur MBG. Penggunaan panel surya untuk listrik dasar, teknologi cold storage hemat energi, serta pengembangan waste-to-energy dari limbah dapur menjadi biogas dapat menjadi solusi konkret.

Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga memperkuat dimensi keberlanjutan lingkungan.

Langkah tersebut menjadi sangat relevan terutama untuk wilayah terpencil yang menghadapi tantangan akses BBM dan listrik. Ketergantungan penuh pada energi fosil akan membuat biaya MBG rentan terhadap gejolak harga global. Sebaliknya, diversifikasi energi akan menciptakan daya tahan program dalam jangka panjang.

Momentum strategis untuk mengonsolidasikan gagasan ini hadir melalui Pertemuan Nasional APPMBGI 2026 yang mengangkat tema “Dari Pangan Bergizi Menuju Kecerdasan Bangsa.” Forum ini penting bukan semata karena mempertemukan ribuan pengelola dapur dan pelaku usaha, tetapi karena menjadi ruang sinkronisasi antara kebijakan pusat dan kebutuhan nyata di lapangan.

Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya perluasan jumlah penerima, tetapi peningkatan kualitas ekosistem. Transparansi anggaran harus diperkuat. Audit rantai pasok perlu dilakukan secara berkala.

SOP higiene harus menjadi standar yang tidak bisa dinegosiasikan. Kemitraan dengan pelaku usaha lokal juga harus dirancang inklusif agar manfaat ekonomi tidak terkonsentrasi pada pemain besar.

BACA JUGA :  Polres Karimun Terima Kunjungan Asistensi Rorena Polda Kepri

Lebih jauh, MBG harus didorong menjadi penggerak transformasi desa. Ketika dapur MBG secara konsisten menyerap beras, telur, ayam, ikan, sayur, dan buah dari produsen lokal, maka program ini akan menciptakan permintaan stabil yang sangat dibutuhkan petani dan UMKM desa. Stabilitas permintaan inilah yang pada akhirnya memperkuat kesejahteraan masyarakat akar rumput.

Karena itu, masa depan MBG tidak boleh dilihat semata sebagai beban APBN, melainkan sebagai investasi produktif negara. Gizi yang lebih baik akan berkontribusi langsung pada kualitas pendidikan, kesehatan, dan produktivitas tenaga kerja di masa depan. Dalam jangka panjang, manfaat ekonominya jauh melampaui nilai anggaran yang dikeluarkan hari ini.

Mata Uang Emas

Di tengah dunia yang semakin volatil, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh militer atau cadangan devisa, tetapi juga oleh kemampuan menjamin pangan rakyat dan energi untuk menopang sistem tersebut. MBG memperlihatkan bagaimana dua sektor strategis itu bertemu dalam satu agenda besar pembangunan manusia.

Karena itu, pangan dan energi harus terus dikelola sebagai satu kesatuan kebijakan. Ketika keduanya berjalan selaras, MBG dapat menjadi legacy kebijakan paling penting dalam satu dekade terakhir; bukan hanya memberi makan, tetapi membangun kecerdasan bangsa.

Pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan sekadar soal berapa juta porsi makanan yang dibagikan setiap hari. Yang jauh lebih penting adalah apakah program ini mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus menghidupkan ekonomi desa dan memperkuat kedaulatan nasional.

Jika tata kelola dijaga, kemitraan diperluas, dan inovasi energi terus dikembangkan, maka pangan dan energi benar-benar akan menjadi “mata uang emas” bagi masa depan Indonesia. Bangsa yang kuat di dua sektor ini adalah bangsa yang memiliki fondasi kokoh untuk berdiri tegak menghadapi krisis apa pun.

Opini oleh: Dr. Ir. Abdul Rivai Ras, M.M., M.S., M.Si., IPU., ASEAN Eng. Ketua Umum DPP APPMBGI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *