JAKARTA – Dinamika keamanan global yang kian bergeser ke arah persaingan kekuatan laut mendorong TNI Angkatan Laut (AL) mempertegas langkah strategisnya. Di hadapan para calon pemimpin nasional, TNI AL memaparkan cetak biru transformasi pertahanan maritim guna memastikan kedaulatan negara tetap kokoh di tengah badai geopolitik.
Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal), Laksamana Madya TNI Edwin, S.H., M.Han., M.H., mewakili Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, memberikan ceramah strategis kepada peserta Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan LXIX Lemhannas RI Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Lemhannas RI, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026) ini menjadi wadah pembekalan krusial terkait kebijakan pembinaan kekuatan maritim di era modern.
Menjawab Kompleksitas Ancaman Lewat Lima Pilar Utama
Dalam paparannya, Wakasal Edwin menyoroti spektrum ancaman maritim yang tidak lagi hitam putih. Selain potensi konflik konvensional, ancaman non-konvensional seperti kejahatan lintas negara, pencurian sumber daya alam, hingga pelanggaran wilayah oleh kekuatan asing menuntut adaptasi doktrin pertahanan yang lebih lincah.
“TNI AL harus terus beradaptasi melalui penguatan lima domain utama,” tegas Wakasal Edwin.
Kelima pilar tersebut meliputi:
1. Pengamanan Wilayah Yurisdiksi Laut: Memperketat pengawasan dan penegakan hukum di seluruh perairan Indonesia.
2. Pembangunan Postur dan Modernisasi Kekuatan: Mewujudkan postur armada yang adaptif dan modern.
3. Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM): Mencetak prajurit profesional yang melek teknologi.
4. Penguatan Sinergi Antar Instansi: Memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengamanan laut.
5. Kerja Sama Internasional: Membangun diplomasi pertahanan untuk menjaga stabilitas kawasan.
Pembinaan kekuatan ini, menurut Wakasal, dijalankan secara sistematis dan terintegrasi dengan kebijakan pertahanan negara. Hal ini sejalan dengan visi besar TNI AL untuk beralih dari sekadar Green Water Navy (kekuatan laut regional) menuju fondasi Blue Water Navy yang mampu memproyeksikan kekuatan dan melindungi kepentingan nasional di perairan yang lebih luas.
Wakasal secara gamblang mengungkap sejumlah tantangan internal yang menjadi fokus evaluasi. Keterbatasan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), dukungan logistik yang masih perlu dioptimalkan, serta adanya kesenjangan kompetensi SDM menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.
Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi pertahanan dari luar negeri menjadi variabel risiko yang harus dikelola melalui penguatan industri pertahanan dalam negeri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, transformasi menuju Operational Ready Force (kekuatan berbasis kesiapan operasional) menjadi keniscayaan. Langkah ini ditempuh melalui modernisasi alutsista yang masif serta penguatan Maritime Domain Awareness (MDA) berbasis teknologi sensor terintegrasi dan sistem komando modern.
Kegiatan di Lemhannas ini merupakan bagian dari upaya TNI AL untuk menyamakan persepsi strategis dengan para pemimpin nasional dari berbagai latar belakang. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberhasilan sistem pertahanan negara yang tangguh.
Acara ini menegaskan komitmen Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dalam membangun TNI Angkatan Laut yang modern, berdaya gentar, dan profesional. Ke depan, TNI AL optimistis dapat terus menjaga stabilitas keamanan maritim serta memastikan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman.
(GAS/PEN)













