178 Tukik Penyu Merangkak Menuju Laut: Harapan Alam Natuna dari Penjaga Perbatasan

TNI ANGKATAN LAUT REPUBLIK INDONESIA LEPASKAN ANAK PENYU
TNI ANGKATAN LAUT REPUBLIK INDONESIA LEPASKAN ANAK PENYU

NATUNA – Di sebuah pantai berpasir putih di ujung timur Pulau Serasan, puluhan pasang mata berkaca-kaca menyaksikan pemandangan yang tak terlupakan. Jumat siang itu, 178 makhluk kecil merangkak sekuat tenaga menuju buaian ombak Selat Karimata. Bukan sekadar pelepasan hewan biasa, ini adalah pelepasan harapan.

Pantai Tebung, Kecamatan Serasan Timur, mendadak berubah menjadi panggung keajaiban alam. Ratusan tukik penyu yang baru berusia 6 bulan hasil penangkaran warga, akhirnya kembali ke rumah sejati mereka: lautan lepas. Di balik langkah mungil mereka, ada kisah panjang tentang cinta, pengorbanan, dan tekad kuat menjaga warisan alam Natuna.

Angkatan Laut Indonesia
Angkatan Laut Indonesia

Di tengah kerumunan, sosok berseragam coklat khas TNI Angkatan Laut menarik perhatian. Pjs. Danposal Serasan, Serma Kom Buang Tony, dengan hati-hati menimang seekor tukik sebelum membiarkannya merangkak di atas pasir. Di sampingnya, para Babinpotmar Posal Serasan turut mendampingi, bukan dengan senjata, tetapi dengan senyum hangat dan doa.

“Ini bukan tugas militer biasa. Ini panggilan hati,” ujar Serma Tony suaranya bergetar haru. “Kami menjaga perbatasan bukan hanya dari ancaman manusia, tetapi juga dari kepunahan makhluk ciptaan Tuhan.”

Momen itu menjadi bukti bahwa di balik seragam gagah prajurit TNI AL, tersimpan kelembutan seorang penjaga alam. Mereka hadir bukan hanya sebagai aparat keamanan, tetapi juga sebagai sahabat lingkungan yang peduli pada masa depan biota laut.

Seluruh Serasan Timur Bersatu untuk 178 Nyawa

Kegiatan yang berlangsung singkat, pukul 10.00 hingga 10.30 WIB, namun maknanya begitu dalam. Camat Serasan Timur, Bapak Erwandi S. Sos, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya saat menyaksikan puluhan tukik menghilang diterjang ombak.

“Ini bukan 178 tukik biasa. Ini adalah 178 harapan baru untuk generasi anak cucu kita,” ucapnya di hadapan warga yang berkerumun di tepi pantai.

Perwakilan Kepala PLBN, Bapak Renaldi, serta seluruh kepala desa se-Kecamatan Serasan Timur atau yang mewakili, turut hadir berdampingan dengan masyarakat. Tak ada sekat antara pejabat dan warga biasa. Semua larut dalam kebahagiaan yang sama: menyaksikan anak-anak penyu memulai petualangan hidup mereka di samudera raya.

Di balik 178 tukik yang berlari riang menuju laut, tersimpan perjuangan panjang yang tak banyak orang tahu. Enam bulan lamanya warga Serasan Timur merawat telur-telur penyu yang nyaris punah, menjaga mereka dari predator dan tangan-tangan jahil, hingga akhirnya siap dilepasliarkan.

“Ini hasil kerja keras kita semua. Setiap tukik yang selamat adalah kemenangan kita melawan kepunahan,” ujar seorang warga dengan mata berkaca-benda.

Acara yang diawali dengan doa bersama ini menjadi pengingat bahwa alam dan manusia adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sambutan, doa, dan pelepasan tukik menjadi rangkaian sakral yang menyatukan hati seluruh yang hadir.

Di balik kegiatan haru ini, ada komitmen besar dari pimpinan tertinggi TNI Angkatan Laut. Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, selama menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), telah menanamkan filosofi bahwa menjaga laut tidak cukup hanya dengan kekuatan armada perang.

“Laut yang sehat adalah laut yang dihuni kehidupan. Itulah kedaulatan sejati,” demikian pesan yang selalu digaungkan.

Amanah tersebut diturunkan hingga ke jajaran terdepan. Komandan Lanal Ranai, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, S.IP., P.S.C., terus mendorong seluruh personel untuk aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan.

“Kami bangga memiliki prajurit yang tidak hanya tangguh di medan tugas, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan cinta lingkungan seperti di Posal Serasan ini,” ujarnya saat dikonfirmasi terpisah.

Matahari kian tinggi, namun tak seorang pun beranjak dari pantai. Mereka masih menatap hamparan biru tempat 178 tukik menghilang. Beberapa anak kecil melambaikan tangan, seolah mengucapkan selamat jalan kepada sahabat baru mereka.

“Semoga kalian tumbuh besar dan kembali lagi ke pantai ini,” bisik seorang bocah dengan polosnya.

Di Natuna, di ujung timur Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, TNI AL dan masyarakat telah menuliskan kisah cinta untuk bumi. Bukan dengan deklarasi besar-besaran, tetapi dengan membiarkan 178 tukik berlari menuju ombak, membawa pesan bahwa selama masih ada kehidupan, selama itu pula tangan-tangan penjaga perbatasan akan setia melindungi.

Karena menjaga alam, sama halnya dengan menjaga masa depan. Dan masa depan itu, hari ini, berlari riang di Pantai Tebung menuju lautan lepas laut Natuna Utara.

(Rky)

Editor: Riky Rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *