Nama Jenderal Soedirman Mengemuka, Kemhan Siapkan Personel TNI Awaki Kapal Induk Giuseppe Garibaldi

Kapal Induk
Kapal Induk

GURINDAM.ID – Langkah Indonesia menuju blue water navy semakin mendekati kenyataan. Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan bahwa personel TNI telah dipersiapkan untuk mengawaki kapal induk pertama Republik Indonesia, Giuseppe Garibaldi, yang dijadwalkan tiba sebelum peringatan HUT TNI ke-81 pada Oktober mendatang.

Di tengah proses alih kelola yang berlangsung, info publik mencuat dengan usulan penamaan kapal perang bersejarah ini dengan nama Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman, simbol patriotisme dan perjuangan tanpa kenal lelah.

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Kesiapan Awak Kapal dan Proses Hibah

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa pengadaan kapal induk tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia.

“Kemhan bersama TNI juga sudah menyiapkan calon awak kapal untuk membawa dan mengawaki kapal tersebut, termasuk pembinaan dan pelatihan yang diperlukan,” ujar Rico saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Jumat (13/2).

Meski jumlah pasti dan lokasi pelatihan belum dirinci, Rico memastikan bahwa para prajurit yang diproyeksikan merupakan personel terlatih dan berpengalaman di bidang perkapalan.

Terkait status kapal, Kemhan menegaskan bahwa Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari Pemerintah Italia.

Namun demikian, Indonesia tetap mengalokasikan anggaran untuk proses retrofit atau penyesuaian teknologi agar kapal bekas pakai Angkatan Laut Italia itu memenuhi standar operasi TNI Angkatan Laut.

“Retrofit dilaksanakan setelah administrasi hibah lengkap sesuai ketentuan,” jelas Rico. Nilai anggaran penyesuaian teknologi kapal induk sepanjang 180,2 meter ini masih dirahasiakan.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.

Target Kedatangan: Sebelum HUT TNI 2026

Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan target ambisius terkait kedatangan kapal induk buatan Fincantieri, Italia, tersebut.

“Untuk Garibaldi, masih dalam proses. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” kata Kasal Muhammad saat jumpa pers di Markas Puspom AL, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).

Saat ini, negosiasi teknis masih berlangsung antara Kemhan dengan galangan kapal Fincantieri selaku produsen, serta dengan Angkatan Laut Italia sebagai pemilik sebelumnya.

Giuseppe Garibaldi bukanlah kapal asing bagi Indonesia. Kapal ini memiliki kemiripan dengan dua KRI baru, yakni KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, yang juga dibuat oleh Fincantieri. Dengan panjang 180,2 meter, kapal ini mampu melesat hingga kecepatan 30 knot (56 km/jam).

Dari segi persenjataan, kapal induk ini dilengkapi dengan, Peluncur Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow/Selenia Aspide, Meriam Oto Melara Kembar 40L70 DARDO, Tabung torpedo 324 mm, Rudal antikapal Otomat Mk 2.

Selain untuk operasi tempur, kapal ini juga diproyeksikan untuk misi Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti bantuan kemanusiaan dan evakuasi bencana, berkat kapasitas angkut logistiknya yang besar.

Menariknya, pengamat militer melihat potensi kapal ini sebagai platform induk pesawat nirawak (UAV). Dalam pameran Indo Defence 2025, perusahaan lokal Republikorp sempat memamerkan konsep modernisasi Garibaldi menjadi basis bagi drone seperti Bayraktar TB3 asal Turki. Hal ini sejalan dengan visi TNI AL untuk memiliki kemampuan proyeksi kekuatan tanpa harus selalu mengandalkan pesawat tempur berawak.

Prabowo Subianto dalam bukunya tentang kepemimpinan militer dan keteladanan Jenderal Soedirman
Prabowo Subianto dalam bukunya tentang kepemimpinan militer dan keteladanan Jenderal Soedirman

Meneladani Semangat Gerilya di Atas Gelombang

Jenderal Besar TNI Soedirman telah menunjukkan kepribadian dan keberanian yang kokoh, pendirian teguh, serta semangat rela berkorban yang tulus ikhlas. Di tengah keterbatasan fisik akibat tuberkulosis yang dideritanya saat memimpin perang gerilya, beliau sadar bahwa kemungkinan besar tidak akan mendapat pengobatan memadai dalam keadaan bergerilya. Namun, prinsipnya kokoh: meski “Sudirman sakit, Panglima Besar tidak pernah sakit.”

Iwan Septiawan
Dr. Iwan Septiawan M.si (han)

Gelar Kehormatan: Usulan Nama Jenderal Soedirman

Di tengah antusiasme publik, pengamat pertahanan dan keamanan, Iwan Septiawan, melontarkan gagasan yang menggelorakan semangat patriotisme. Ia mengusulkan agar kapal induk pertama kebanggaan Indonesia ini dinamai Jenderal Soedirman.

Nama Panglima Besar pertama TNI ini dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai simbol kegigihan dan nasionalisme sejati, Soedirman lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916, dan memimpin perang gerilya melawan penjajah Belanda pasca-kemerdekaan meski dalam kondisi tubuh yang lemah. Semangat pantang menyerahnya dianggap selaras dengan fungsi kapal induk sebagai garda terdepan penjaga kedaulatan.

“Jenderal Soedirman adalah sosok pahlawan besar yang namanya tak lekang oleh waktu. Dedikasi dan pengorbanannya mengajarkan bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan tanpa batas,” ujar Iwan.

Menurutnya, menyematkan nama pahlawan nasional pada kapal induk akan menjadi pengingat abadi bagi para prajurit yang bertugas di atasnya tentang nilai-nilai keberanian dan pengorbanan untuk ibu pertiwi.

Iwan Septiawan menambahkan bahwa generasi penerus bangsa akan terus terkenang nama abadi Jenderal Soedirman sebagai sosok teladan yang melambangkan integritas, keteguhan hati, dan pengabdian tanpa batas. Berikut adalah nilai-nilai keteladanan utama yang diwariskannya:

1. Kegigihan di Tengah Keterbatasan: Memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit parah dengan ditandu, namun menolak menyerah.

2. Keutamaan Kepentingan Bangsa: Memilih bergerilya di hutan demi mempertahankan kedaulatan, daripada tinggal di kota yang diduduki penjajah.

3. Kesederhanaan dan Kedekatan dengan Rakyat: Mampu berkomunikasi secara sederhana dengan pasukan dan memiliki empati tinggi terhadap rakyat lapisan bawah.

4. Keteguhan Iman dan Disiplin: Latar belakang sebagai santri membentuk pribadi religius, disiplin, dan jujur.

5. Integritas dan Kesetiaan: Menekankan pentingnya menepati janji dan tidak menjadi pengkhianat bangsa. Pesannya yang terkenal, “Kejahatan akan menang bila orang yang benar tidak melakukan apa-apa,” terus menjadi motivasi untuk berani membela kebenaran.

Tantangan Menuju Blue Water Navy

Meski langkah ini disambut positif, sejumlah pengamat mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam “ilusi teknologi.” Kapal induk adalah system of systems yang membutuhkan ekosistem pendukung, mulai dari kapal eskorta, pasokan logistik, hingga pangkalan perawatan yang memadai.

Dikutip gurindam id, Pengamat hubungan internasional UI, Ristian Atriandi Supriyanto, mencontohkan pengalaman HTMS Chakri Naruebet milik Thailand yang lebih banyak bersandar di dermaga karena tingginya biaya operasional.

Karena itu, pengoperasian Garibaldi nantinya harus dihitung dengan cermat agar tidak mengganggu alokasi anggaran untuk alutsista lain yang tak kalah penting.

Dengan target kedatangan Oktober 2026, publik kini menanti apakah kapal perang asal Italia ini akan benar-benar meramaikan lautan Nusantara dan menyandang nama besar Jenderal Soedirman menjadi simbol kebangkitan maritim Indonesia sekaligus pengingat abadi bahwa kemerdekaan dan kedaulatan adalah hasil perjuangan tanpa batas.

(Rk/ANTARA)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *