JAKARTA – Komitmen kuat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali ditegaskan melalui rencana strategis penambahan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) berupa kapal perang.
Langkah ini merupakan implementasi langsung dari arahan dan petunjuk Panglima Tertinggi TNI, yakni Presiden Prabowo Subianto, untuk memperkuat pertahanan negara sekaligus mendorong kemandirian industri pertahanan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana Muhammad Ali di sela-sela Rapat Pimpinan TNI AL di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (11/2).
Dalam paparannya, Laksamana Ali menegaskan bahwa prioritas utama TNI AL ke depan adalah revitalisasi dan modernisasi alutsista, dengan kapal sebagai napas utama jati diri matra laut.
”Jadi prioritas ke depan untuk TNI Angkatan Laut masih tetap di bidang alutsista, karena Angkatan Laut itu ada karena ada kapal. Kalau tidak ada kapal, bukan Angkatan Laut namanya. Penambahan kapal akan tetap dilaksanakan, dan ini dilaksanakan di industri galangan dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Laksamana Ali.
Sinergi Industri Dalam dan Luar Negeri: Transfer Teknologi untuk Kemandirian Bangsa
Dalam upaya mengejar ketertinggalan teknologi, TNI AL tidak hanya fokus pada pengadaan, tetapi juga pada penguasaan teknologi. Laksamana Ali menjelaskan bahwa untuk pengadaan kapal yang dibangun di luar negeri, pihaknya mewajibkan adanya kerja sama Transfer of Technology (ToT) dan Transfer of Knowledge.
”Dan nantinya ke depan diharapkan semua bisa dibangun di dalam negeri. Walaupun dibangun di luar negeri, tetap TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) harus lebih dari 50 persen. Harapannya seperti itu. Itu prioritasnya,” tegas perwira tinggi bintang empat tersebut.
Semangat nasionalisme ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang kuat dan mandiri. Dengan adanya kewajiban TKDN, setiap pengadaan alutsista dari luar negeri tetap memberikan dampak ekonomi bagi industri pertahanan dalam negeri, sekaligus mempercepat alih teknologi.
Lebih dari sekadar penambahan alat perang, TNI AL juga mempertegas komitmennya dalam penegakan hukum dan pengamanan laut. Laksamana Ali menekankan bahwa arahan Presiden Prabowo sangat jelas: TNI harus semakin tegas dalam mencegah penyelundupan yang merugikan keuangan negara.
”Kebijakan pengamanan sama; penjagaan kedaulatan dan keamanan serta penegakan hukum di laut tetap dilaksanakan oleh unsur-unsur kita. Dan kita semakin tegas, arahan dari Bapak Presiden, kita harus mencegah penyelundupan-penyelundupan yang dapat membocorkan dan memberikan kerugian negara,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, sektor pertahanan tidak hanya berorientasi pada kekuatan militer, tetapi juga pada penyelamatan aset dan sumber daya nasional dari praktik ilegal.
Dalam waktu dekat, publik akan menyaksikan kedatangan sejumlah kapal canggih yang akan memperkuat armada TNI AL. Laksamana Ali menyebutkan bahwa pembangunan kapal selam dari luar negeri terus berjalan, mengingat teknologi kapal selam belum dapat dibangun sepenuhnya di dalam negeri.
”Semua pembangunan kita nanti ada kapal selam yang di luar negeri, ada kapal atas air frigat. Ada beberapa negara. Nah itu harapannya seperti Prabu Siliwangi akan datang mungkin bulan April, bulan April sudah tiba di tanah air,” sebutnya.
Selain KRI Prabu Siliwangi, TNI AL juga menanti kedatangan KRI Kanopus, kapal hidro-oseanografi yang sekaligus berfungsi sebagai kapal penyelamat (rescue) kapal selam.
”KRI Kanopus, Kapal Hidros yang sekaligus sebagai Kapal Rescue kapal selam, itu juga bisa hadir mungkin bulan April pertengahan atau Mei. Mudah-mudahan sih bulan April semua bisa hadir,” sambungnya.
Meskipun masih mengandalkan pembangunan di luar negeri untuk kategori tertentu, TNI AL tidak berpuas diri. Laksamana Ali menyampaikan harapan besar agar ke depan Indonesia mampu membangun sendiri seluruh alutsistanya.
”Dan nanti akan banyak lagi, tapi harapan kita sebenarnya yang di dalam negeri ini yang penting. Kita akan bangun terus di dalam negeri dan harapannya kita sudah bisa menguasai teknologi-teknologi yang tadinya belum kita kuasai dengan kerja sama,” pungkasnya.
Modernisasi alutsista TNI AL ini bukan sekadar penambahan kekuatan tempur, melainkan wujud nyata kecintaan terhadap tanah air.
Di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan kepemimpinan Laksamana Muhammad Ali, TNI AL bergerak maju dengan semangat patriotisme: siap menjaga laut Nusantara, tegakkan kedaulatan, dan bangun kemandirian bangsa.
(grd/pen)













