NATUNA – Di tengah hiruk-pikuk Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrembang) Kabupaten Natuna, satu suara lantang menggema mewakili harapan ribuan warga kepulauan.
Anggota DPRD Natuna, H. Ahmad Sapuari, tampil sebagai penyambung aspirasi masyarakat Pulau Tiga yang selama ini menanti realisasi pembangunan Pelabuhan Nyet-nyet sebuah proyek strategis yang kini terbengkalai di tengah jalan.
“Masyarakat tidak hanya minta janji. Mereka butuh bukti. Pelabuhan ini sudah lama tertunda, dan kami tidak bisa terus-menerus meminta mereka bersabar tanpa kepastian,” ujar legislator dari Daerah Pemilihan Tiga itu dengan nada tegas, Rabu (11/2/2026), di sela-sela agenda Musrembang Kabupaten di bukit arai.

Proyek Pelabuhan Nyet-nyet di Desa Tanjung Batang, Kecamatan Pulau Tiga, awalnya digagas Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sebagai bagian dari upaya membuka keterisolasian wilayah kepulauan.
Namun, hingga kini, pembangunan hanya berjalan separuh jalan. Masyarakat menyaksikan sendiri bagaimana dermaga yang diimpikan justru berhenti begitu saja.
“Kurang lebih 30 meter pembangunan yang belum dilanjutkan. Belum lagi jembatan T yang menjadi penghubung vital antara dermaga dan daratan. Ini bukan sekadar soal beton dan besi.
Ini soal bagaimana nelayan dan kapal bisa merapat dengan selamat, bagaimana harga kebutuhan pokok tidak membumbung tinggi karena biaya logistik yang mahal,” papar Ahmad Sapuari.
Sebagai daerah 3TP (Terdepan, Terpencil, Tertinggal, dan Perbatasan), Natuna semestinya mendapat perhatian ekstra dalam hal infrastruktur dasar.
Namun ironi justru terjadi. Di wilayah yang berbatasan langsung dengan sembilan negara ini, warganya masih berjuang untuk mendapatkan akses transportasi laut yang layak.
Ekonomi Terhambat, Wisata Bahari Terpendam
Pulau Tiga menyimpan potensi bahari yang tak kalah dengan destinasi wisata unggulan Indonesia. Namun tanpa dermaga representatif, kapal-kapal penumpang dan logistik enggan bersandar.
Aktivitas bongkar muat masih mengandalkan perahu-perahu kecil yang tak hanya memakan waktu, tetapi juga membahayakan keselamatan.
“Potensi Natuna luar biasa. Tapi kalau infrastruktur dasar seperti pelabuhan saja mandek, bagaimana ekonomi mau bergerak?” tegas politikus PKS ini.
Lebih dari itu, masyarakat tidak ingin pembangunan parsial. Mereka menginginkan ekosistem transportasi yang utuh, Haji Tauran, tokoh masyarakat setempat, menyampaikan keresahan yang selama ini mengendap.
Ahmad Sapuari tak sekadar mencatat keluhan. Ia berkomitmen membawa persoalan ini ke ranah kebijakan. Koordinasi lintas sektor antara DPRD, pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat menjadi kunci agar pembangunan lanjutan tidak lagi sekadar wacana tahunan.
“Kami akan dorong dalam rapat-rapat DPRD. Instansi teknis harus bergerak cepat. Jangan sampai aspirasi masyarakat hanya berhenti di catatan Musrembang tanpa tindak lanjut nyata,” janjinya.
Masyarakat Pulau Tiga kini menaruh harapan besar pada langkah politisi yang akrab disapa Bang Haji /Sapari Baginya, konektivitas laut bukan sekadar urusan teknis, melainkan denyut nadi kehidupan ribuan kepala keluarga.
Jika pembangunan dilanjutkan dan rampung sesuai rencana, Pelabuhan Nyet-nyet bukan hanya akan menjadi simpul transportasi. Ia adalah simbol bahwa negara hadir di titik terluar.
Bahwa warga perbatasan tidak dilupakan. Bahwa Pulau Tiga dan pulau tiga barat siap melangkah sejajar dengan wilayah lain.
“Kami ingin Pulau Tiga dan pulau tiga barat tidak lagi dipandang sebagai daerah terpencil. Tapi sebagai daerah potensial yang siap bersaing,” ucap Haji Tauran mewakili warganya. “Kami berharap pemerintah khususnya Pemkab Natuna segera cari solusi agar pelabuhan nyet nyet segera diselesaikan,” lugasnya.
Satu dermaga, 30 meter beton, dan sebuah jembatan T. Bagi sebagian orang, itu mungkin angka biasa. Tapi bagi warga Pulau Tiga, itu adalah jembatan menuju masa depan bergeraknya denyut nadi ekonomi rakyat.
(Rky)













