Korespondensi Baru Buktikan Diskusi Pangeran Andrew dan Epstein Terungkap

Dokumen pengadilan terbaru ungkap email Jeffrey Epstein
Dokumen pengadilan terbaru ungkap email Jeffrey Epstein

LONDON – Skandal yang membayangi keluarga kerajaan Inggris kembali memanas. Dokumen pengadilan terbaru yang dirilis sebagai bagian dari gugatan korban Jeffrey Epstein, mengungkapkan korespondensi yang secara eksplisit menunjukkan diskusi antara terdakwa perdagangan seks tersebut dengan Pangeran Andrew mengenai perempuan-perempuan yang akan “diperkenalkan” kepada sang pangeran.

Arsip setebal lebih dari 3 juta juta halaman yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) pada akhir Januari 2026.

Yang paling menghebohkan, dalam salah satu email yang tercatat, Jeffrey Epstein disebutkan secara spesifik menawarkan untuk membawa tiga perempuan ke Istana Buckingham untuk menemui Pangeran Andrew. Tawaran ini disebutkan terjadi usai kunjungan sang pangeran ke rumah Epstein di New York.

Dokumen tersebut merupakan bagian dari arsip perkara yang melibatkan Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein. Korespondensi yang dimaksud adalah antara Ghislaine Maxwell dan seorang karyawan Epstein, yang mendiskusikan permintaan sang pangeran usai kunjungannya.

Dalam percakapan tersebut, Maxwell dilaporkan mengatakan, “Andrew menerima tawaran,” merujuk pada tawaran Epstein. Sementara sang karyawan membalas dengan kalimat yang kini menjadi sorotan: “Kami memiliki sesuatu untuknya dia seharusnya memberitahumu tentang ini–dia meminta seorang gadis spesifik, usianya 21 tahun, dan Epstein setuju untuk mengirim 3 gadis ke Buckingham.”

Klaim ini bertentangan dengan penyangkalan berulang Pangeran Andrew. Dalam wawancara kontroversialnya dengan BBC Newsnight tahun 2019, Duke of York menyangkal keras pernah bertemu atau berhubungan dengan Virginia Giuffre, salah satu korban utama yang menuduhnya. Ia juga berargumen bahwa kunjungannya ke rumah Epstein saat itu hanya untuk “memutuskan hubungan” secara sopan.

Tantangan Berat bagi Istana dan Reputasi Kerajaan

Pengungkapan dokumen terbaru ini memberikan pukulan telak bagi kredibilitas Pangeran Andrew dan menjadi sakit kepala baru bagi Istana Buckingham yang sedang berusaha memulihkan citra monarki di era Raja Charles III.

“Korespondensi ini sangat merusak. Ini bukan lagi tentang ‘kenangan yang salah’, tetapi tentang bukti tertulis yang menunjukkan diskusi langsung mengenai penyediaan perempuan untuknya,” ujar Sarah Matthews, seorang analis hubungan masyarakat dan krisis dari firma Reputation Matters. “Ini memperkuat narasi bahwa hubungannya dengan Epstein jauh lebih dalam dan lebih kelam dari yang pernah diakui.”

Hingga berita ini diturunkan, Istana Buckingham menolak memberikan komentar lebih lanjut terkait dokumen spesifik ini, merujuk pada pernyataan sebelumnya bahwa mereka tidak akan berkomentar mengenai proses hukum yang sedang berjalan. Pangeran Andrew sendiri tetap membantah semua tuduhan yang tidak pantas dan melanggar hukum terhadap dirinya.

Apa Dampaknya?

Dokumen ini diperkirakan akan:

1. Memperkuat gugatan hukum dari para korban lainnya yang mungkin melibatkan nama sang pangeran.

2. Menambah tekanan publik untuk mencabut gelar dan patronase kerajaan yang tersisa dari Pangeran Andrew.

3. Merusak upaya diplomasi lunak (soft power) keluarga kerajaan, yang telah berusaha menjaga netralitas dan citra bersih di mata dunia.

4.  Potensi panggilan resmi untuk memberikan kesaksian lebih lanjut di depan pengadilan.

Skandal Epstein-Andrew yang belum juga reda ini terus menguji ketahanan institusi monarki Inggris dalam menghadapi era transparansi dan akuntabilitas. Dengan bukti baru yang terus mengalir, jalan Pangeran Andrew untuk memulihkan namanya tampaknya semakin panjang dan berliku.

Sumber: Al-Jazeera

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *