GURINDAM.ID – Lanskap Geopolitik Global Berubah, Dalam analisis terkini, pengamat pertahanan dan keamanan Iwan Septiawan S.S. M.si (han) menyoroti pergeseran mendasar dalam lanskap geopolitik dunia.
“Geopolitik saat ini bukan lagi sekadar perang senjata, melainkan pertarungan sistem keuangan, pengaruh ekonomi, dan kendali global,” ujar Iwan Septiawan yang juga pendiri Indonesia Defense and Strategic Forum (IDSF) kepada Gurindam.id, Minggu (1/2/2026).
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis yang unik di tengah dunia yang semakin multipolar, di mana blok-blok lama mulai retak.
“Nilai strategis tertinggi, menurutnya, dimiliki oleh negara yang mampu menjaga kedaulatan sambil terlibat secara konstruktif di berbagai arena,” ujar Iwan Septiawan yang juga merupakan Kandidat Doktor Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Komitmen Indonesia pada politik luar negeri “bebas aktif” diwujudkan dalam langkah-langkah nyata, termasuk partisipasi Presiden Prabowo Subianto dalam penandatanganan Board of Peace Charter (BoP).
Langkah ini memperkuat kepemimpinan Indonesia di panggung global dan menegaskan peran negara berkembang sebagai penjaga keseimbangan. Hal ini semakin relevan di tengah dinamika diplomasi strategis global, yang tercermin dari laporan pertemuan AS-Rusia dan meningkatnya rivalitas antar kekuatan besar.
Konsolidasi Poros Global South: Dari Arab Saudi hingga BRICS+
Rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo pada Juli 2025 mencerminkan strategi untuk mengkonsolidasikan poros baru dunia dan mengakselerasi peran Global South.
1. Arab Saudi: Lebih dari sekadar kunjungan keagamaan, lawatan ini menghasilkan perluasan kerja sama strategis. Indonesia dan Arab Saudi dilaporkan menandatangani kesepakatan senilai sekitar 27 miliar dolar AS, berfokus pada pengembangan energi bersih, petrokimia, dan sumber daya mineral. Kerja sama ini memposisikan Indonesia sebagai jembatan bagi ASEAN.
2. KTT BRICS+ di Brasil: Momen kunci ini menandai pergeseran kekuatan global. Bergabungnya Indonesia sebagai anggota ke-11 BRICS+ secara signifikan menambah bobot ekonomi blok tersebut, yang kini mencakup sekitar 30% PDB global, 20% perdagangan barang dunia, dan hampir separuh populasi dunia.
Dalam forum ini, Indonesia bersama negara anggota lain secara terbuka mengkritik kebijakan tarif unilateral dan menyerukan reformasi lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.
Strategi Indonesia ini dilakukan dalam konteks global yang penuh tantangan, termasuk kebijakan proteksionisme dan eskalasi anggaran pertahanan di berbagai wilayah.
Dengan memadukan pendekatan religius, ekonomi, dan pertahanan, diplomasi aktif Indonesia bertujuan menciptakan keseimbangan baru dalam tatanan global.
Posisi Indonesia di BRICS+ dan kemitraan strategisnya menandai munculnya blok multipolar yang solid, yang berpotensi menggeser dominasi tatanan lama dan meningkatkan daya tawar kolektif negara-negara ekonomi berkembang.
(RK)













